After You’re Gone


A KyuMin Fanfiction

.

Presented by Sevy Lelibriani © 2013

.

After You’re Gone

.

Rate : T

.

Genre : Drama, Married life, Hurt/Comfort, lil bit Angst, lil bit Fantasy

.

Disclaimer : I just own the story. Casts and other property are not mine.

.

Warning : YAOI || OOC || Abal || Typo || Tak sesuai EYD

Don’t Like Don’t Read! Bash, Flame, Copy-paste, Plagiat, are not allowed here!

.

Music Background : Cakra – Setelah Kau Tiada

.

.

-EnJOY-

 

 

“Aku minta satu botol lagi!”

 

Pemuda berwajah manis itu tampak tersungkur di atas meja bar. Keadaannya sudah begitu mengenaskan, namun hal itu sama sekali tak menyurutkan niatnya untuk terus meneguk alkohol-alkohol tersebut.

 

Tak di pedulikannya bujukan para pelayan bar untuk berhenti minum, bahkan Eunhyuk –sahabatnya- pun sudah kualahan membujuk namja manis keras kepala tersebut.

 

“Min… sudahlah… kau sudah mabuk. Lebih baik kita pulang sekarang,” bujuk Eunhyuk.

 

“Tidak… aku tidak mabuk, Hyukkie… yang mabuk nenek gila itu. Seenaknya saja ia menyuruhku menikah dengan namja bodoh yang tak ku kenal itu. dia pikir dia siapa, eoh? Daripada menikah dengan namja itu, lebih baik aku menikah dengan batu,” ujar Sungmin sembari memejamkan matanya. Kepalanya terasa begitu pusing. Namun ini lebih baik, daripada ia harus berada di rumah sekarang. Jika ia ada di rumah, pasti halmeoni-nya yang cerewet itu tak akan berhenti membicarakan namja yang –rencananya- akan di jodohkan dengannya kelak.

 

Ya, Halmeoni Sungmin memaksa menjodohkan Sungmin dengan seseorang yang bahkan wajahnya saja Sungmin tak tahu. Selama ini Sungmin memang hanya tinggal berdua bersama halmeoni-nya. Jadi, terang saja halmeoni-nya menaruh harapan begitu besar pada Sungmin, agar cucu manisnya tersebut mau menuruti keinginannya.

 

“Min, sudahlah… lebih baik sekarang kita pulang. Halmeoni bisa masuk rumah sakit lagi jika tahu kau mabuk-mabukkan seperti ini,” bujuk Eunhyuk.

 

“Aku ingin membunuh orang itu, Hyukkie…” rengek Sungmin.

 

“Aku bersumpah akan menghancurkan hidup namja terkutuk itu, hiks…”

 

“Ya.. ya, Min… terserah kau saja. Lebih baik sekarang kita pulang dulu, arra?” ujar Eunhyuk seraya ,membopong tubuh oleng Sungmin.

 

-oOoOo-

.

.

Sungmin berdecih tak kentara. Saat ini di hadapannya kini telah duduk namja yang akan di jodohkan dengan Sungmin. Sungmin menatap sinis namja nerd di hadapannya itu.. Sebenarnya apa yang neneknya lihat dari namja itu? Kaya? Sepertinya tidak juga. penampilan? Biasa saja, bisa di bilang nerd malah. Sama sekali tidak menarik. Tapi kenapa neneknya begitu memaksanya agar mau di jodohkan dengan namja itu? bahkan neneknya itu tahu kalau ia telah punya kekasih. Ah, iya. Lee Donghae. Apa reaksi Donghae jika tahu ia telah di jodohkan? Apa kekasihnya itu akan marah? Atau mungkin akan kecewa padanya? kekasihnya itu kini tengah berada di Jepang untuk menyelesaikan studinya. Lalu apa yang harus ia katakan saat Donghae pulang nanti?

 

“Minnie-ya… kenalkan, ini Kyuhyun. Cho Kyuhyun. calon suamimu,” ujar nenek Sungmin membuyarkan lamunan Sungmin. Wajah tua itu tampak menatap Kyuhyun dengan tatapan yang berbinar. Akhirnya impiannya untuk menjodohkan cucu satu-satunya dengan pemuda bermarga Cho itu akan terwujud sebentar lagi.

 

“H-hay, Sungmin-ssi…” sapa Kyuhyun gugup. Jujur saja, saat ini Kyuhyun tengah berusaha sekuat tenaga menahan debaran jantungnya di hadapan Sungmin.

 

Namun rasa gugup Kyuhyun seketika menguar saat tiba-tiba saja Sungmin melengos tak suka dan pergi begitu saja dari sana tanpa berucap apa-apa, meninggalkan Kyuhyun yang hanya bisa memasang wajah bingung.

 

“Sungmin-ah!” nenek Sungmin bergegas beranjak dari sana mengejar Sungmin. sungguh ia merasa betul-betul tak enak pada Kyuhyun yang kini tampak muram.

.

.

Lee Halmeoni menatap Sungmin berang. Sungguh ia tak menyangka cucunya ini bisa bertindak tak sopan seperti ini.

 

“Lee Sungmin! kenapa kau berlaku tak sopan pada Kyuhyun? dia itu calon suamimu,” ujar Lee Halmeoni menahan marah.

 

“Calon suami? Yang benar saja Halmeoni? Kau menjodohkanku pada namja seperti dia? Kau tahu ‘kan kalau aku sudah punya kekasih? Kenapa kau sama sekali tak bisa menerima Donghae dan malah menjodohkanku dengan namja nerd itu?” ujar Sungmin tak kalah geram. Selama ini, ini ‘lah kali pertama ia berbicara keras di hadapan neneknya ini.

 

“Sungmin-ah… Halmeoni hanya ingin yang terbaik untukmu…” ujar Lee Halmeoni mulai terisak.

 

“Lalu maksud Halmeoni Donghae tidak baik untukku, begitu?”

.

.

Tanpa Sungmin dan Lee Halmeoni sadari, ada seorang pemuda yang juga turut menyimak pertengkaran antara nenek dan cucu itu.

 

“Jadi begitu… kau menolakku….” Ujar Kyuhyun lirih seraya tersenyum getir. Kau tahu rasanya kalah sebelum berperang? Menyakitkan bukan? Itu ‘lah yang Kyuhyun rasakan sekarang. baru saja ia merasakan hatinya berdebar hangat saat menatap Sungmin, di saat yang sama pula lahar panas seolah membakar hatinya.

.

.

 

“Lalu maksud Halmeoni Donghae tidak baik untukku, begitu?” bentak Sungmin geram. Oh, yang benar saja, hanya karena namja nerd itu, ia sampai harus membentak neneknya seperti ini?

 

“Min… Halmeoni mohon… tak bisakah kau memberi kesempatan pada Kyuhyun? dia anak yang baik…”

 

“Tidak akan. Lebih baik kau usir saja aku dari rumah dari pada aku harus menikah dengannya, Halmeoni…” ujar Sungmin final. Lee Halmeoni sontak tercekat. Bagaimana mungkin? Cucunya yang begitu ia sayangi, senantiasa di rawatnya sejak kecil, kini bisa berbicara seperti ini padanya?

 

“Min…” sesaat setelah menyebut lirih nama Sungmin, sesosok tubuh renta itu tampak jatuh ke lantai. Sontak saja Sungmin tersentak kaget. Di hampirinya tubuh tua itu yang kini mulai memucat.

 

“Ha..Halmeoni…” panggil Sungmin takut. Sungguh jika sampai terjadi apa-apa pada neneknya ini, ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

 

Kajja kita bawa Halmeoni ke rumah sakit, Min,” Sungmin menatap bingung sosok Kyuhyun yang tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya dan bersiap membopong Lee Halmeoni.

 

“Apa lagi yang kau pikirkan? Cepat siapkan mobil!” ujar Kyuhyun saat menyadari Sungmin yang bukannya bergerak cepat malah melamun. Tanpa membantah, secepat kilat Sungmin menuju garasi mobilnya.

 

-oOoOo-

.

.

 

Sungmin menatap datar pantulan wajahnya di cermin. Hari ini ia terlihat begitu manis sekaligus tampan. Balutan tuxedo putih tampak begitu pas di tubuhnya. Ya, hari ini adalah hari pernikahannya. Pernikahannya yang tentu saja dengan Cho Kyuhyun.

 

Jujur saja, ingin rasanya Sungmin kabur dari tempat ini. Namun, ia sudah berjanji pada neneknya.

 

Kilasan kejadian saat ia dan Kyuhyun membawa Lee Halmeoni ke rumah sakit dua minggu yang lalu itu kembali berputar di benaknya. Saat itu, sungguh Sungmin begitu merasa terpukul melihat keadaan sang nenek. Selama ini ia tak punya siapa-siapa. Hanya neneknya ‘lah yang selalu ada di dekatnya dan tak pernah lelah merawatnya sejak ia kecil.

 

Saat itu pula ia berjanji dalam hatinya. Jika sang nenek sadar, ia akan mengabulkan semua permintaan neneknya, sekalipun permintaan neneknya itu adalah menerima Kyuhyun –orang yang paling ia benci- menjadi suaminya.

 

Dan hari ini ‘lah puncaknya. Hari ini adalah hari pernikahannya dengan Kyuhyun. Sungmin melangkah gontai keluar ruangan riasnya. Sebentar lagi acara akan di mulai.

.

.

.

Lee Halmeoni tersenyum antusias di atas kursi rodanya. Walaupun keadaannya belum stabil, Lee Halmeoni memaksa untuk tetap hadir di pernikahan cucu kesayangannya ini. Akhirnya saat yang ia nanti-nantikan tiba juga.

 

Lee Halmeoni tersenyum hangat saat melihat betapa serasinya Kyuhyun dan Sungmin yang kini saling mengucapkan janji. Tampak begitu sempurna.

 

“Saat ini mungkin kau belum bisa menerimanya, Min-ah… tapi suatu saat nanti, Halmeoni yakin kau akan sadar kalau kau tampak begitu sempurna bersanding dengannya…”

 

-oOoOo-

.

.

 

Kyuhyun menatap punggung Sungmin sedih tanpa berani menegurnya. Acara resepsi telah selesai, dan saat ini Kyuhyun dan Sungmin tengah menuju ke apartemen mereka. Sungmin tampak begitu menjaga jarak dari Kyuhyun. bahkan sejak tadi namja Lee itu sama sekali tak membuka suara.

 

Kyuhyun menghela napas pasrah seraya menatap Sungmin yang terus melangkah jauh di depannya. Bukankah seharusnya pengantin baru itu berjalan saling berdampingan? Tapi lihatlah, mereka tampak seperti dua orang yang tak saling mengenal satu sama lain.

.

.

Kyuhyun mendesah lega, akhirnya mereka tiba juga di apartemen mereka. Dengan semangat, bergegas Kyuhyun berjalan menuju satu-satunya kamar yang berada di apartemen ini, namun…

 

“Hey! Mau kemana kau?”

 

Kyuhyun mengernyit bingung saat mendapati Sungmin yang kini menatapnya tak suka. Ada apa lagi? Seingatnya ia belum melakukan kesalahan apa-apa.

 

Ne?”

 

“Kau tidur di luar,” ujar Sungmin seenaknya.

 

“Maksudmu?”

 

“Disini hanya ada satu kamar, lalu kau pikir aku mau sekamar denganmu? Yang benar saja! Oh, apa yang di pikirkan Halmeoni waktu membeli apartemen ini? Kenapa hanya ada satu kamar disini?” gerutu Sungmin seraya menutup keras pintu kamarnya tanpa mempedulikan Kyuhyun yang kini tengah mematung –masih- di depan pintu kamar.

 

Dengan lunglai, Kyuhyun mulai bernajak dari sana. Setengah hati ia menyeret langkahnya menuju sofa ruang tamu. Ia benar-benar butuh istirahat saat ini. Fisiknya lelah, namun batinnya juga tak kalah lelah.

 

-oOoOo-

.

.

Sungmin terbangun saat jarum jam menunjukkan tepat pukul tujuh pagi. Bergegas ia beranjak dari tempat tidurnya berniat menuju dapur, ia lapar sekali pagi ini. Namun seketika langkahnya terhenti tepat di dekat sofa ruang tamu. Ia baru ingat, bukankah… seharusnya Cho bodoh itu ada disini?

 

Sungmin menatap sekeliling ruangan. Namun nihil. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang lain selain dirinya. Sungmin mengernyit bingung saat tiba-tiba saja matanya menangkap secarik kertas yang terlipat rapi di atas meja di dekat sofa.

 

Maaf tidak pamit terlebih dahulu, kau tertidur pulas,

aku tak tega membangunkanmu.

Jadi aku pamit lewat surat ini saja tak apa ‘kan?

Aku harus bekerja, mungkin hingga tiga hari kedepan aku tak akan pulang.

Ku harap kau berhati-hati jika sendirian di rumah.

 

Cho Kyuhyun

 

 

Sungmin berdecih seraya meremas surat tersebut dan membuangnya ke tong sampah yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

 

“Kau pikir aku peduli? Kau tidak usah pulang saja, malah bagus,” ujar Sungmin seraya meneruskan langkahnya ke dapur.

 

“Bekerja? Seperti ada saja orang yang mau mempekerjakan namja aneh dan lemah seperti dia,” gumam Sungmin sambil terus mengata-ngatai namja yang telah resmi menjadi suaminya itu.

 

-oOoOo-

.

.

 

Tiga hari telah berlalu, Kyuhyun sungguh tak sabar untuk pulang dan bertemu dengan Sungmin. entah kenapa, tak melihat wajah manis itu beberapa hari ini membuatnya terus uring-uringan.

 

Kyuhyun melangkah masuk apartemennya seraya tersenyum hangat.

 

‘Hae-ya… aku benar-benar merindukanmu…”

 

‘Kau tahu? Aku benar-benar tersiksa harus terjebak bersama namja bodoh dan lemah itu. aku tak habis pikir, apa yang Halmeoni pikirkan hingga ia memaksaku menikah dengan namja itu.’

 

Senyum Kyuhyun sontak menghilang saat di dengarnya suara Sungmin yang sepertinya kini tengah membicarakannya di telepon. Bukan isi pembicaraan Sungmin yang membuatnya terdiam, melainkan sosok yang kini tengah berbicara dengan Sungmin ‘lah yang membuatnya terluka. Apa itu kekasih Sungmin? Tanpa di komando, tangan Kyuhyun terulur naik meraba dadanya sendiri. Entah kenapa, rasanya begitu sakit mendengar ucapan Sungmin tersebut, terlebih Sungmin mengatakan hal tersebut pada kekasihnya.

 

‘Aku harap kau segera kembali dan menjemputku, Hae-ya… aku benar-benar muak berada disini. Jika bukan karena Halmeoni, aku pasti sudah meninggalkan namja itu.’

 

 

TESS

 

“Sungmin benar… aku memang namja lemah dan bodoh…” ujar Kyuhyun seraya tersenyum miris. Bergegas ia beranjak dari sana sebelum Sungmin menyadari kalau sedari tadi ia menguping pembicaraan Sungmin dan kekasihnya.

 

-oOoOo-

.

.

 

Sungmin tersentak kaget saat di lihatnya sosok Kyuhyun yang baru saja keluar dari kamar mandi dan masih berbalut handuk. Jujur saja, jika di lihat-lihat, Kyuhyun sangat tampan apalagi dengan penampilan seperti ini. Rambut yang masih agak basah dan berantakkan. Benar-benar terlihat manly. Buru-buru Sungmin menggelengkan kepalanya cepat.

 

‘Cih, bisa-bisanya kau berpikir seperti itu. sekali nerd tetap saja nerd.’

 

“Kau? Sejak kapan kau pulang?” tanya Sungmin ketus. Ia baru ingat kalau ini tepat tiga hari setelah Kyuhyun pamit pergi.

 

“Aku pulang sejak tiga jam yang lalu. Maaf, aku tak pamit langsung padamu waktu itu. aku buru-buru,” ujar Kyuhyun seraya berjalan menuju kopernya dan mengambil sepasang pakaian dari sana kemudian bergegas memakainya tanpa mempedulikan Sungmin yang masih berada disana.

 

“Sebenarnya apa pekerjaanmu? Aku baru ingat kalau aku sama sekali tak tahu latar belakangmu. Kau jangan percaya diri dulu. Aku bertanya seperti ini bukan karena aku perhatian padamu,” ujar Sungmin ketus.

 

Kyuhyun tersenyum lembut mendengar nada bicara Sungmin. sama sekali tak ada gurat kemarahan di wajah tampan itu walau seketus apapun Sungmin padanya.

 

“Aku hanya karyawan biasa di sebuah perusahaan asuransi. Dan kemarin aku harus ke luar kota karena ada urusan disana.”

 

Sungmin mendecih sinis, “Huh? Karyawan? Aku tak percaya ada yang mau mempekerjakan namja lemah dan bodoh sepertimu,” ujar Sungmin seenaknya tanpa mempedulikan bagaimana perasaan Kyuhyun.

 

“Aku juga bersyukur mereka mau menerimaku bekerja disana. Sekarang lebih baik kita makan. Aku sudah beli makanan di luar tadi,” ujar Kyuhyun berusaha mengabaikan rasa sakit yang sempat menghimpit dadanya tadi. Ia memilih berjalan lebih dulu menuju ruang makan.

 

“Baguslah kau tahu diri. Kau harus berterimakasih karena masih ada yang mau mempekerjakanmu. Benar-benar berbeda dengan Donghae-ku. Donghae-ku itu namja yang benar-benar bisa di andalkan.”

 

Walaupun hanya sebuah gumaman kecil, namun Kyuhyun dapat mendengarnya dengan jelas. Sangat jelas malah. Jujur saja, rasanya begitu menyakitkan jika istrimu sendiri justru malah membandingkanmu dengan kekasihnya yang jelas-jelas masih ia cintai.

 

-oOoOo-

.

.

 

“Mwo? Kau tak bercandakan, Hae? Tentu aku masih menunggumu. Aku sangat menunggu saat kau menjemputku nanti. Aku benar-benar merindukanmu, chagi…”

 

Sungmin terus berbicara di telepon tanpa mempedulikan namja yang kini tampak tertunduk tanpa ekspresi di hadapannya. hari ini hari minggu, dan entah kenapa rasanya Kyuhyun ingin sekali menghabiskan akhir pekan ini hanya berdua dengan Sungmin.

 

Susah payah ia membujuk Sungmin tadi hingga akhirnya Sungmin luluh walaupun sepanjang perjalanan Sungmin terus merengut, tak masalah bagi Kyuhyun. Tapi sekarang ‘lah yang menjadi masalah. Kekasih Sungmin tiba-tiba menelepon di saat mereka tengah makan siang bersama. Dan apa tadi? Kekasih Sungmin itu akan kembali ke Korea?

 

Kyuhyun mendadak muram. Wajahnya memang terlihat datar. Namun jujur saja, batinnya kini tengah tersenyum sekaligus menangis. Tersenyum karena melihat wajah bahagia Sungmin, dan menangis karena senyum itu bukan karena dirinya, melainkan karena namja lain.

 

“Hey, Cho bodoh! Mau sampai kapan kau melamun? Aku sudah kenyang. Kajja, kita pulang!” ucapan ketus Sungmin sontak mengembalikan Kyuhyun dari lamunannya. Bergegas ia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mengejar Sungmin yang sudah lebih dulu pergi.

 

-oOoOo-

.

.

Seperti biasa-bisasnya, tak pernah sekalipun Kyuhyun berjalan berdampingan dengan Sungmin seperti halnya pasangan-pasangan ‘normal’ lainnya yang selalu berdampingan. Kali ini pun Sungmin tetap menjaga jarak dari Kyuhyun.

 

“Hey, Cho! Aku rasa kita harus pisah arah sekarang. aku ingin jalan-jalan sendirian. Bisakah kau pergi?” ujar Sungminn tiba-tiba.

 

Kyuhyun menatap Sungmin tak percaya. Ini bahkan baru dua jam mereka jalan bersama tapi Sungmin sudah muak berada dekat-dekat dengannya? Tak terima? jelas. Namun, sedikitpun Kyuhyun tak mampu menolak permintaan Sungmin. baginya jika Sungmin senang, tak masalah jika ia harus menderita sekalipun.

 

“Baiklah, kau berhati-hatilah. Jika butuh apa-apa hubungi aku,” ujar Kyuhyun seraya berusaha tersenyum. Tanpa mempedulikan jawaban Kyuhyun, bergegas Sungmin pergi dari sana.

.

.

Membiarkan Sungmin pergi begitu saja? Yang benar saja. Saat ini tanpa sepengetahuan Sungmin, Kyuhyun memilih untuk menguntit Sungmin kemana pun namja manis itu pergi. menjaga dari kejauhan pun juga tak masalah bagi Kyuhyun. selama Sungmin berada dalam pengawasanannya, sekalipun Sungmin tak menyadari keberadaannya itu tak masalah.

 

Sesekali Kyuhyun tersenyum menatap Sungmin yang lebih ceria saat ini ketimbang saat bersamanya tadi.

 

“Apa berada dekatku memang membuatmu jengah, Min?” gumam Kyuhyun bermonolog.

 

Saat Sungmin kembali berjalan menjauh dari pandangannya, kembali Kyuhyun bergerak mengikuti Sungmin. ia tak ingin kehilangan jejak Sungmin. Sungmin harus terus berada dalam pengawasannya!

.

 

Kyuhyun menatap heran Sungmin yang kini tampak terdiam di depan sebuah etalase yang memajang berbagai jenis boneka. Apa Sungmin ingin beli boneka? Tapi kenapa ia tak langsung masuk saja?

 

Cukup lama Sungmin berdiri disana, namun setelah itu namja manis tersebut bergegas pergi dari sana.

 

-oOoOo-

.

.

“Kau bilang kau akan pulang seminggu sebelum ulangtahunku,” rajuk Sungmin di telepon. Lagi-lagi ia lebih memilih berkomunikasi dengan kekasihnya daripada harus bertemu Kyuhyun di ruang makan.

 

Jebal, Hae… aku tak peduli! Pokoknya kau harus ada saat malam pergantian tahun nanti! Aku anggap kehadiranmu adalah kado ulangtahun buatku!” ujar Sungmin seraya memutus sambungan teleponnya. Sebentar lagi ia ulang tahun. Tak ada yang lebih di inginkannya selain kehadiran sang namjachingu di sisinya.

.

.

Kyuhyun tampak berpikir sejenak setelah mendengar percakapan Sungmin dan Donghae di telepon tadi. Ah, jangan salahkan Kyuhyun yang selalu menguping pembicaraan pasangan Lee itu. salahkan suara Sungmin yang terdengar begitu keras hingga ke ruang tengah.

 

“Jadi… kau berulangtahun tanggal 1 Januari nanti, Min-ah…” gumam Kyuhyun seraya tersenyum dan tak berapa lama kemudian ia mulai memejamkan matanya lelah.

 

-oOoOo-

.

.

Kyuhyun melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal. Selama hampir dua minggu ia di tugaskan ke luar kota oleh atasannya. Tak ayal itu menjadi beban pikiran bagi Kyuhyun karena tepat tengah malam nanti adalah malam pergantian tahun. Dan itu berarti adalah ulang tahun Sungmin.

 

Begitu selesai dengan tugasnya tadi, bergegas Kyuhyun pulang, tak mempedulikan jalan yang sedikit licin karena hujan. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Sungmin. Sungmin yang sendirian di malam ulang tahunnya.

 

Sembari sesekali menengok kearah kursi penumpang di sampingnya, Kyuhyun terus tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Sungmin nanti. Susah payah ia mendapatkan boneka yang kemarin sempat di perhatikan oleh Sungmin itu. ia harap Sungmin akan menyukai pemberiannya ini.

.

.

 

Kyuhyun berjalan masuk ke apartemennya dengan tubuh sedikit basah terguyur hujan. Di lengan kanannya tergenggam sebuah boneka berukuran besar. Namun langkah Kyuhyun sontak terhenti saat di dengarnya suara isak tangis.

 

Perlahan Kyuhyun mulai berjalan mendekati asal suara. Kyuhyun tercekat saat menyadari asal suara itu rupanya bersumber dari Sungmin. sosok manis itu tampak kusut. Apa yang terjadi?

 

“Aku tak ingin apa pun. Aku hanya ingin kau, Hae. Bahkan sejak tadi aku tak menerima telepon darimu. Apa kau melupakanku?” lirih Sungmin masih terisak.

.

 

Kyuhyun menatap Sungmin iba. Jujur saja, ia benar-benar tak kuat jika harus melihat Sungmin bersedih seperti itu. tatapan Kyuhyun beralih menuju sesuatu di genggamannya. Selintas ide terbersit di pikirannya

 

“Tak masalah jika Sungmin bahagia…”

.

.

 

“Min… Min-ah…” teriak Kyuhyun seolah ia baru saja tiba di rumah. Kyuhyun berpura-pura menatap Sungmin dengan ekspresi kaget yang di buat senatural mungkin.

 

Sungmin menatap Kyuhyun kesal. Ia sedang kesal saat ini, dan Cho bodoh itu malah datang membawa kegaduhan.

 

“Min… lihatlah. Aku menemukan ini di depan pintu apartemen kita. Aku rasa ini untukmu,” ujar Kyuhyun berpura-pura antusias.

 

Sungmin melirik sesuatu di tangan Kyuhyun bingung. Dengan ragu ia meraih kotak berukuran lumayan besar yang sepertinya adalah kado itu.

 

“Cepatlah buka. Siapa tahu sesuatu yang penting,” ujar Kyuhyun –tampak- riang. Tanpa banyak bicara bergegas Sungmin membuka bungkusan mirip kado tersebut.

 

Senyum lucu tampak terlukis di bibir Sungmin saat mendapati sebuah boneka yang sempat ia inginkan dulu di dalam sana. Tak hanya boneka, di dalam kado tersebut juga terdapat sepucuk surat yang sepertinya memang sengaja di letakkan si pengirim disana.

 

Dear Sungmin,

 

Maaf, aku tak bisa datang di malam ulangtahunmu

Tapi aku harap, boneka ini dapat mewakiliku untuk menemanimu malam ini.

Semoga kau suka.

Saengil chukkahamnida, Lee Sungmin~

 

Donghae

 

Sungmin tersenyum senang. Di peluknya erat boneka tersebut.

 

“Aku tahu kau yang terbaik Donghae-ah…” lirih Sungmin senang tanpa menyadari bahwa Kyuhyun kini tengah menatapnya pilu.

 

‘Syukurlah kau menyukai boneka itu, Min-ah… Aku tahu yang ku lakukan ini salah. Tapi asalkan itu membuatmu bahagia, apapun akan ku lakukan.’ Batin Kyuhyun seraya tersenyum pilu saat mengingat bagaimana sulitnya ia mendapatkan boneka itu di saat toko telah tutup tadi. Namun usahanya itu sama sekali tak di sadari Sungmin yang terlanjur mengira, boneka tersebut adalah pemberian Donghae.

 

“Kau lihat, Kyu? Donghae-ku memang yang terbaik. Ia selalu tahu apa yang ku inginkan…” ujar Sungmin semakin membuat batin Kyuhyun tersayat. Tak ayal hanya sebentuk senyum getir ‘lah yang hanya bisa Kyuhyun perlihatkan.

 

“Hey, kau tak ingin memberiku hadiah? Aku sedang ulangtahun saat ini,” tanya Sungmin dengan nada yang sudah tak seketus awal-awal pernikahan mereka dulu.

 

‘Hadiah dariku tengah kau peluk sekarang..’

 

“Baiklah, kau ingin apa? Tapi maaf jika kau tak bisa mengabulkannya sekarang.”

 

“Aku ingin bebas darimu,” ujar Sungmin tiba-tiba.

 

“Maksudmu?”

 

“Aku ingin bebas. Bisakah kau membiarkanku pergi saat Donghae datang nanti? Kau tenang saja, kau juga punya hak yang sama denganku. Kau bebas berhubungan dengan orang lain.”

 

Jantung Kyuhyun terasa di hujam pedang. Ia bermimpikan? Bagaimana mungkin Sungmin tega mengatakan hal seperti itu? sekalipun tak pernah terlintas di pikiran Kyuhyun akan berhubungan dengan orang lain selain Sungmin.

 

Kyuhyun menatap wajah Sungmin dengan tatapan pilu. Wajah manis itu… tampak begitu berharap padanya. bagaimana mungkin ia tega tak menuruti keinginan Sungmin?

 

Walau berat, Kyuhyun memaksakan wajahnya untuk tersenyum. Entah seperti apa bentuk senyumnya saat ini, “Baiklah, aku… aku akan menuruti kemauanmu. Selamat ulangtahun Sungmin-ah,” ujar Kyuhyun seraya tersenyum hambar.

 

Sungmin tersenyum lebar, “Terimakasih, Kyuhyun-ah. mulai sekarang aku akan menganggapmu teman. Kita berteman sekarang,” ujar Sungmin tanpa menyadari Kyuhyun tengah berusaha sekuat tenaga meredam rasa sakitnya.

 

‘Teman…. Tak boleh ‘kah aku berharap lebih, Min?’

 

-oOoOo-

.

.

Akhir-akhir ini hubungan Kyuhyun sudah semakin membaik. Seperti kata Sungmin sebelumnya, mereka berteman. Benar-benar hanya berteman. Namun, toh itu tetap membuat Kyuhyun senang. Setidaknya mereka sudah tak seperti dulu lagi, walaupun terkadang lidah tajam Sungmin masih sering menyinggung Kyuhyun.

 

Belakangan ini pula sikap Kyuhyun juga semakin membuat Sungmin bingung. Kyuhyun semakin sering di kirim atasannya ke luar kota. Sering Sungmin bertanya, sebenarnya apa pekerjaan Kyuhyun, namun jawaban Kyuhyun selalu sama. Hanya hanya seorang karyawan biasa. Percaya? Tentu saja Sungmin tak percaya begitu saja. Memang perusahaan mana yang hampir setiap waktu mengirim pegawainya ke luar kota tak peduli hari libur sekalipun? Namun Sungmin tak mau ambil pusing. Toh itu pekerjaan Kyuhyun ‘kan?

.

.

Seperti halnya hari ini, hari ini sudah hampir seminggu Kyuhyun pergi setelah sebelumnya berpamitan dengan Sungmin tempo hari.

 

Sungmin tersentak mendapati Kyuhyun datang dengan wajah dan tubuh penuh luka. Namja Cho itu juga tampak semakin kurus dan lusuh. Sebenarnya apa yang di lakukan Kyuhyun? apa jangan-jangan Kyuhyun adalah berandalan?

 

“Hey, Cho. Apa yang terjadi denganmu? Kau habis berkelahi, ya?” tanya Sungmin curiga.

 

“Tidak apa-apa… aku hanya… hanya saja tadi aku berkelahi dengan pencopet. Ya, hanya itu,” ujar Kyuhyun berusaha terlihat meyakinkan.

 

“Benarkah?”

 

“Tentu saja,” jawab Kyuhyun berusaha tenang.

 

“Aku curiga… jangan-jangan pekerjaanmu sebenarnya adalah seorang mafia, ya? Atau jangan-jangan kau buronan polisi?”

 

“Haha, kau bercanda? Kau terlalu banyak menonton film action, ya?” ujar Kyuhyun seraya tertawa gugup.

 

“Cih, dasar preman,” decih Sungmin

 

“Hey, Kyu. Aku rasa aku akan membuang boneka ini saja,” ujar Sungmin tiba-tiba. Ucapan Sungmin sontak membuat Kyuhyun tersentak kaget.

 

“Membuangnya? Tapi… tapi kenapa?”

 

“Entahlah… jika melihat boneka ini aku semakin merasa merindukan Donghae. Sebaiknya ku buang saja.”

 

“M-mwo? Jangan di buang!” ujar Kyuhyun tanpa sadar berteriak panik. Sungmin mengernyit heran melihat ekspresi Kyuhyun yang berlebihan.

 

“Kenapa kau jadi panik seperti itu?”

 

“Ti-tidak… bukan begitu maksudku… maksudku, bagaimana jika nanti saat Donghae kembali ia menanyakan tentang pemberiannya? Coba kau pikirkan perasaan Donghae kalau dia tahu kau membuang pemberiannya?” bujuk Kyuhyun meyakinkan Sungmin yang kini tampak memikirkan kata-kata Kyuhyun.

 

“Kau benar juga… lagipula… aku suka boneka ini.”

 

“Hmm, Min… bolehkah aku mohon satu hal darimu?” tanya Kyuhyun seraya mengompres lukanya hati-hati.

 

“Apa?” tanya Sungmin tak peduli.

 

“Bisakah… bisakah kau luangkan waktumu minggu depan?”

 

“Minggu depan?  Memang ada apa?” tanya Sungmin bingung.

 

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengajakmu makan malam bersama minggu depan, karena setelahnya aku harus kembali bertugas ke luar kota. Hanya minggu depan ‘lah waktu luangku. Kau mau ‘kan?” bujuk Kyuhyun.

 

“Kau berkata seperti tidak akan kembali saja. Baiklah, minggu depan ‘kan?”

 

-oOoOo-

.

.

One Week Later

 

Sudah seminggu ini Kyuhyun pergi tugas dan belum kembali hingga kini. Kesempatan ini di gunakan sebaik-baiknya oleh Sungmin untuk pergi ke Jepang. Sungguh, ia ingin sekali bertemu Donghae. Sudah hampir dua tahun namja itu pergi, bahkan akhir-akhir ini Donghae sudah tak pernah lagi menghubunginya. Benar-benar membuatnya khawatir.

 

Saat ini Sungmin telah tiba di Jepang. Berbekal secarik kertas berisi alamat yang dulu pernah Donghae berikan padanya, dengan yakin Sungmin menyusuri jalanan di Negara tetangganya tersebut.

.

.

.

Kyuhyun berjalan tergesa memasuki apartemennya. Ia sungguh tak sabar menunggu hari ini. Sedetikpun selama ia bekerja tak sekalipun ia berhenti memikirkan hari ini. Sungmin sudah berjanji akan meluangkan waktu untuknya mala mini. Semoga saja Sungmin tak terlalu lama menunggunya.

 

“Sungmin-ah?” panggil Kyuhyun saat menyadari keadaan apartemen yang gelap gulita. Apa Sungmin sedang keluar?

 

“Yasudah, lebih baik aku siapkan saja semuanya,” ujar Kyuhyun seraya tersenyum tanpa mempedulikan tubuhnya yang pedih karena banyak terdapat luka disana.

.

.

Kyuhyun melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya sambil sesekali menguap lelah. Ini sudah pukul 1 malam. Makanan yang ia siapkan sudah dingin sejak tadi. Namun tanda-tanda kemunculan Sungmin sama sekali tak ada. Bahkan sejak tadi nomor Sungmin tak dapat di hubungi.

 

“Apa kau melupakan janjimu, Min?”

 

Gumam Kyuhyun tertunduk lesu hingga akhirnya tertidur di tempat duduknya hingga pagi menjemput.

.

.

Kyuhyun terbangun kaget saat di rasanya ponselnya bergetar. Buru-buru ia melihat layar ponsel tersebut berharap Sungmin ‘lah yang menghubunginya. Namun nihil. Itu bukan dari Sungmin.

 

“Yeoboseyo~”

 

‘….’

 

“Baiklah, aku akan berangkat sekarang,” Kyuhyun menghela napas letih saat menutup panggilannya. Kyuhyun harus kembali bekerja namun Sungmin sama sekali muncul.

 

“Entah kenapa aku ingin sekali melihatmu… sebentar saja, Min…”

 

-oOoOo-

.

.

Sudah selama beberapa hari ini Sungmin tak berani muncul langsung di hadapan Donghae. Yang ia lakukan hanya’lah menguntit namja tampan itu di setiap aktivitasnya.

 

Tak jarang Sungmin tersenyum sendiri saat di lihatnya ekspresi dan tingkah Donghae yang menurutnya lucu.

 

Saat ini Sungmin kembali melihat diam-diam Donghae dari kejauhan. Tampaknya namja tampan itu akan pulang menuju apartemennya. Namun seketika Sungmin menatap kaget pemandangan di depannya.

 

Sangat jelas ia lihat bahwa seorang namja berperawakan kecil tengah berjalan menghampiri Donghae. Namja itu pun tak canggung memeluk Donghae hingga tiba di depan pintu apartemen Donghae. Dan yang lebih membuat Sungmin tak percaya… Donghae mencium lembut sosok namja tersebut tepat di depan pintu apartemen Donghae.

 

“Donghae-ya… Eunhyukkie…”

.

.

Masih sulit bagi Sungmin mempercayai semua ini. Kekasihnya… dan sahabatnya? Apa ini alasan di balik kepergian Eunhyuk yang tiba-tiba? Ini juga ‘kah penyebab Donghae tak pernah lagi menghubunginya? Dan dengan bodohnya ia malah pergi kemari.

 

“Cih, bodoh sekali aku… kenapa aku tak pernah menyadarinya? Sejak kapan mereka menyembunyikan semua ini?” lirih Sungmin seraya menatap langit sore di pantai.

 

“Huh, aneh sekali… kenapa rasanya tak begitu sakit ya? Apa aku terlalu sakit hati sampai rasanya mati rasa begini?”

 

“Seharusnya ku bakar saja boneka dari Donghae waktu itu. kalau saja Kyuhyun tidak… Kyuhyun?!” seketika Sungmin teringat pada namja yang beberapa ini sempat ia lupakan. Kira-kira apa kabarnya namja itu, ya?

 

“Astaga, bukankah aku berjanji padanya beberapa hari yang lalu? Mian, Cho bodoh, akan ku ganti acara makan malam bersamamu di lain waktu,” gumam Sungmin seraya tersenyum aneh membayangkan wajah bodoh Kyuhyun.

 

Drrt… Drrt…

 

Sungmin menatap bingung layar ponselnya. Tumben sekali neneknya menelepon. Apa neneknya tahu kalau selama lima hari ini ia tak berada di Korea?

 

Yeobose…”

 

‘Min-ah… hiks, kau dimana chagi? Bisakah kau pulang sekarang… Halmeoni mohon…’

 

Halmeoni… kau kenapa?” tanya Sungmin panik. apa terjadi sesuatu pada sang nenek?

 

‘Cepat kemarilah, Minnie-ya…’

 

Tanpa buang waktu Sungmin bergegas beranjak dari pantai tersebut dan bergegas mencari taksi menuju bandara.

 

-oOoOo-

.

.

Sungmin menatap heran keadaan di rumah neneknya. Kenapa banyak orang berpakaian serba hitam disini? Belum lagi banyak orang berpakaian seperti angkatan bersenjata disini. Ada apa ini? Dimana Kyuhyun? sedari tadi ia sama sekali tak bisa menghubungi Kyuhyun. apa yang terjadi pada neneknya?

 

Sungmin menatap bingung sosok renta sang nenek yang tampak menangis hebat. Dan ketika menyadari kehadiran Sungmin, sang nenek sontak memeluk Sungmin erat. Ada apa sebenarnya?

 

Halmeoni… ada apa?”

 

“Temui dia, Min… lihatlah dia untuk terakhir kalinya…” ujar sang nenek. Temui? Temui siapa? Perasaan tak enak mulai merambati Sungmin. Dengan tubuh gemetar Sungmin berjalan menuju sebuah peti mati yang berada tepat di ruang tengah.

 

Sungmin menutup mulutnya rapat seraya menatap tak percaya sosok di dalam peti tersebut. Sungmin menggeleng pelan.

 

“Kyuhyun… ini bohong ‘kan? Ini hanya bercanda ‘kan? Terakhir kali aku bertemu dengannya ia terlihat biasa saja…” isak Sungmin seraya mengusap wajah Kyuhyun yang tampak damai dalam tidurnya.

 

“Kapten Cho tewas tertembak saat sedang menjalankan tugas di perbatasan Korea, Tuan,” ujar seorang namja berpakaian militer. Sungmin terperangah tak percaya. Kapten Cho? Siapa yang di maksud kapten? Kyuhyun ‘kah? Tidak mungkin.

 

“Kau bercanda? Suamiku bukan anggota militer. Dia hanya seorang karyawan biasa… bagaimana mungkin…” jerit Sungmin histeris. Sadarkah Sungmin kalau ini pertama kalinya ia menyebut Kyuhyun adalah suaminya?

 

Beberapa pasang mata menatap pilu sosok Sungmin yang seperti orang gila. Nenek Sungmin pun tak kuasa menahan tangis. Ia sendiri tak menyangka Kyuhyun akan meninggalkan Sungmin secepat ini.

 

Sungmin menatap jasad Kyuhyun nanar. Kenapa Kyuhyun merahasiakan pekerjaannya dari Sungmin? Sungmin mengusap wajah tampan namun pucat Kyuhyun yang senantiasa terpejam.

 

“Hey, Kyu… bangunlah… kau terlihat tampan sekali saat ini. Hiks… wajahmu kenapa bisa sedamai itu, eoh? Apa kau bahagia disana? Hiks, sepertinya begitu. Kau bahkan terlihat jauh lebih damai daripada biasanya saat bersamaku. Apa kau senang berpisah denganku?” tangis Sungmin semakin menjadi-jadi. Para pelayat pun tak kuasa menahan haru.

 

“Min-ah… relakan Kyuhyun, chagi…” lirih nenek Sungmin.

 

Ani… Halmeoni…. Aku belum sempat mewujudkan keinginannya. Dia hanya ingin makan malam bersamaku, namun aku tak memenuhinya. Aku bodoh, Meoni… Ia pergi karena salahku…” raung Sungmin.

 

Sungmin kembali menatap wajah damai Kyuhyun dengan perasaan teriris. Perlahan wajah Sungmin bergerak maju mendekati wajah Kyuhyun dan menempelkan kedua belah bibir mereka erat. Dingin. hanya itu ‘lah yang Sungmin rasakan.

 

“Kau harus ingat ini, Kyuhyun-ah… ini ciuman pertama kita, hiks… sekaligus ciuman perpisahan kita…saranghae…”

.

.

.

 

Sungmin berdiri di tepi sungai Han dengan tatapan kosong. Di tangannya tergenggam sepucuk surat yang sempat di tinggalkan Kyuhyun untuknya tepat saat acara makan malam yang tidak Sungmin hadiri dulu.

 

“Kyu, kenapa hingga sekarang perasaan kosong ini belum juga hilang?” gumam Sungmin.

 

“Aku membutuhkanmu, Kyu…” lirih Sungmin lagi. Selama kepergian Kyuhyun ini baru ia rasakan betapa berartinya kehadiran Kyuhyun selama ini. Bahkan tentang Donghae dan Eunhyuk pun dia sudah tak peduli lagi. Hanya rasa bersalah pada kyuhyun ‘lah yang terus-terusan menghantuinya hingga sebulan kepergian Kyuhyun ini. Kenapa perasaan ini datang di saat yang sudah sangat terlambat? Andaikan ada kesempatan kedua, ia rela menukar apapun demi Kyuhyun.

 

‘Kyuhyun itu anak yang baik, Min-ah… kau tahu kenapa Halmeoni begitu bersikeras memaksamu agar mau menikah dengannya?’

 

‘Dia selama ini hidup sebatang kara di sebuah panti asuhan, Min…’

 

‘Ayah Kyuhyun dulu juga seorang agen militer… dia tewas saat menyelamatkan orangtuamu dari percobaan pembunuhan. Sejak saat itu ‘lah Kyuhyun menjadi sebatang kara, ibunya meninggal setelah melahirkannya. Saat itu selama bertahun-tahun orangtuamu tak pernah lelah mencari Kyuhyun yang menghilang. mereka berniat merawat Kyuhyun, namun siapa sangka tiga tahun kemudian orangtuamu justru mengalami kecelakaan parah hingga menyebabkan kematian orangtuamu. Sebelum kepergiannya ayahmu sempat berpesan pada Halmeoni untuk mencari Kyuhyun dan menjodohkannya denganmu, Min…’

 

‘Maafkan Halmeoni tak memberitahu hal ini dari awal… ini permintaan Kyuhyun. ia juga meminta agar merahasiakan apa pekerjaannya padamu…’

 

Kata-kata sang nenek terus berkelebat di benak Sungmin. sungguh, ia tak pernah menyangka betapa berat beban hidup seorang Cho Kyuhyun yang selalu ia remehkan selama ini. Seandainya ada yang namanya kesempatan kedua, ingin rasanya Sungmin mengabdikan seluruh hidupnya untuk Kyuhyun.

 

“Kenapa penyesalan ini baru muncul sekarang? hiks, kenapa aku baru menyadari kalau kau itu teramat berarti, Kyu?” isak Sungmin.

 

‘Kau tahu, Min? boneka yang kau kira adalah pemberian dari Donghae itu sebenarnya adalah pemberian Kyuhyun…’

 

‘Halmeoni bercanda? Tapi Kyuhyun bilang…’

 

‘Saat itu Kyuhyun bilang ia tak tega melihatmu menangis karena Donghae. Karena itu ia terpaksa berbohong dan berpura-pura mengatakan kalau itu adalah pemberian Donghae. Ia hanya tak ingin kau sedih, Min…’

 

‘Selama ini Kyuhyun hanya menyimpan rasa sakitnya seorang diri. Namun terkadang saat butuh sandaran, ia bercerita pada Halmeoni…’

 

 

“Kau bodoh Cho Kyuhyun… kau kapten paling bodoh yang pernah ada, hiks…”

 

Pikiran Sungmin kembali berkelana ke saat-saat dimana Kyuhyun masih bersamanya dulu. Ia ingat saat Kyuhyun melarangnya membuang boneka tersebut, seharusnya ia sadar ada yang aneh saat itu. Kyuhyun terlihat panik. Seharusnya juga, ia sadar lebih awal sejak Kyuhyun memberikan boneka tersebut padanya, tulisan yang terselip di boneka tersebut sama sekali bukan tulisan tangan Donghae. Seharusnya ia sadar lebih awal!

 

Sungmin tersenyum getir, ingatannya kembali ke saat dimana Kyuhyun meminta waktu luangnya hanya untuk sekedar makan malam bersama. Namun bodohnya saat itu ia malah pergi ke Jepang menyusul Donghae.

 

Sungmin juga ingat saat dimana Kyuhyun pulang bekerja dengan tubuh penuh luka, dan saat itu, bukannya membantu Kyuhyun mengompres lukanya, Sungmin malah mencibirnya dan mengatainya berandalan.

 

Namun Kyuhyun tak pernah marah… tak sekalipun…

 

Sungmin kembali membuka lipatan surat peninggalan Kyuhyun, air mata tak pernah henti membanjiri wajahnya,

 

Dear Sungmin,

 

Min, mungkin kau akan menganggapku bodoh karena menulis surat ini,

Aku tahu ini sangat bodoh dan aneh,

Bagaimana mungkin orang yang tinggal serumah

harus menulis surat untuk saling berkomunikasi?

Tapi entah kenapa aku sangat ingin melakukannya

Aku hanya ingin mengatakan, sebenarnya aku sangat berharap kau mau

menemaniku makan malam.

Tapi sepertinya kau sibuk, ya?

 

Tidak masalah, aku hanya ingin kau tahu kalau malam ini adalah ulangtahunku

Sebenarnya aku ingin sekali menghabiskan waktu berdua denganmu di hari ulangtahunku

Aku bahkan menunggumu hingga pagi,

Namun kau tak kunjung datang

Jujur saja aku kecewa, hehe

Tapi kau tenang saja,

Aku tak marah padamu

 

Setelah ini aku kembali harus di tugaskan ke luar kota, Min

Ku mohon jaga dirimu selama aku tak ada

 

Cho Kyuhyun

 

Sungmin meremas surat itu erat. Kenapa kebaradaan Kyuhyun baru terasa setelah namja itu pergi? sungguh Sungmin menyesal, kenapa dulu ia bisa berlaku seperti itu pada namja sebaik Kyuhyun.

 

“Aku tahu tak akan ada kesempatan kedua untukku. Tapi bisakah aku memohon satu hal padamu, Tuhan?”

 

“Aku ingin sekali menebus dosaku pada Kyuhyun…”

 

Terlambat kusadari, kau teramat berarti…

Mungkin memang terlambat bagiku untuk kembali dan menanti kesempatan kedua yang sudah jelas tak akan mungkin pernah ada…

Namun aku tak akan pernah berhenti berharap Tuhan akan memberiku kesempatan untuk menebus dosa-dosaku padamu, Kyuhyun-ah…

.

.

-oOoOo-

.

.

.

 

Blue World High School : tahun 2060

 

 

Sosok tampan itu berjalan santai memasuki kawasan sekolah elit di kota Seoul itu. Sepanjang jalan, tak henti-hentinya gerombolan siswa maupun siswi mengelu-elukan namanya. Namun ia sama sekali cuek dan tak peduli pada kehebohan di sekitarnya.

 

Aigoo, semakin hari Kyuhyun sunbae semakin terlihat tampan saja,” seru beberapa siswi yang saling bergosip saat melihat sosok namja idola mereka lewat di hadapan mereka.

 

“Kau benar, dia benar-benar sempurna…”

.

.

Kyuhyun mendengus gusar, jujur saja ia cukup terganggu dengan tingkah agresif siswa disini. Terlebih lagi beberapa hari yang lalu ada seorang siswa pindahan di sekolahnya. Bukan apa-apa, siswa baru itu sepertinya juga tertarik pada Kyuhyun, namun seperti biasa, Kyuhyun tak akan mau peduli.

 

“Hey, Kyu! Sepertinya fans fanatikmu bertambah satu lagi,” ujar Donghae seraya terikik geli.

 

“Benar! Bahkan yang ini terlihat lebih agresif sepertinya, ku rasa tak buruk juga kalau kau mencoba mendekatinya,” ujar Eunhyuk –kekasih Donghae- tak kalah heboh. Duo Lee itu memang hobi sekali menggoda Kyuhyun seperti ini.

 

“Maksud kalian?”

 

“Jangan pura-pura tak tahu… murid baru itu… coba kau lihat kearah sana,” tunjuk Eunhyuk seraya menunjuk meja yang berada tepat di hadapan mereka. Saat ini mereka sedang berada di kantin sehingga bebas bersenda gurau.

 

Mengikuti arah yang di tunjuk Eunhyuk, Kyuhyun menatap jijik ke objek yang di pandangnya. Menyesal ia tadi menuruti saran Eunhyuk menoleh kearah sana.

 

Kyuhyun mengernyit tak suka saat sosok murid baru yang super nerd tersenyum padanya. mencoba menggodanya, eoh?

 

Kyuhyun membuang pandangannya kesal, “Kalian bercanda? Aku berpacaran dengannya? Mimpi saja!” dengus Kyuhyun di sambut derai tawa Eunhyuk dan Donghae yang terus menggodanya.

 

“Kau berlebihan, Kyu… Lee Sungmin itu tak terlalu buruk, kok… yah… mungkin hanya sedikit hmm… sangat nerd, haha…”

 

Kyuhyun terdiam sesaat, bukan. Bukan karena memikirkan ucapan Eunhyuk barusan… melainkan karena nama itu… kenapa terasa tak asing baginya? Kembali Kyuhyun menatap sosok namja nerd bernama Sungmin itu.

 

Kyuhyun mengernyitkan dahinya bingung. Kenapa namja nerd itu tak henti-hentinya menatapnya? Apa mereka pernah saling kenal?

 

‘Lee… Sung…Min? kenapa seperti tidak asing bagiku?’

 

 

-END-

 

 

11 thoughts on “After You’re Gone”

  1. Eonni^^ mianhe br sempet baca FF nya .. hehe . 1 kata ,, Daebakk . Ahh aq suka bgt sama FF ‘After You’re Gone’ . udh lama aq gak nangis pas baca FF hurt/comfort . tp FF nya eon sukses bikin aq nangis tengah malem^^

  2. aku lebih suka kalo adegannya tanpa epilognya.
    biar lebih sedih.
    thor, kamu dh lama ga buat ff baru ataupun update ff nih..

  3. Wach sdih bacanya ternyata Kyu itu seoarang militer y
    Ming akhirny tahu juga kalau boneka itu bukan dari Hae tapi dari Kyu y🙂
    Ming mulai mencintai Kyu saat Kyu meninggalkan dirinya y😥
    eh KyuMin bertemu lagi y tapi gantian Ming yang menjadi sosok nerd y??

  4. pengorbanan kyuhyun bikin nangis T____T
    sungminnya jahat >< ada rengkarnasinya yaa hahaha
    suka nih pasti karma deh si sungmin kkk… pengen squel yang versi rengkarnasinya xDD

  5. ceritanya super duper kereeeen… sampai menitikan air mata saking dapet feel nya!!! cuman kok gantung sih d akhir ceritanya??? apa sungmin yg nerd adalah cucu dari cucu, cucunya sungmin??? semoga ada sequelnya🙂

  6. Jd ada reinkarnasi gtu?
    Sungmin pasti nyesel ga ketulungan, sampe ‘Nyuttt’ dadaku ngerasainnya.. Yoss! slamat berjuang Lee Sungmin! buat Kyuhyun bahagia!
    #komen gaje#

  7. Kya….. hiks hiks hike…

    Kenapa nasip kyuhyun oppa sangat Tragis Unni… kenapa juga sungmin oppa harus sampe segitunya ma donghae oppa…

    Unni just sequel dong… jebal…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s