FF KyuMin | Dark Wish | Horromance | GS | PART 1


Super Junior’s Horror Fiction

.

Presented by © Sevy Lelibriani

.

Title : Dark Wish

.

Super Junior’s Lee Sungmin and Cho Kyuhyun [KyuMin] as Main Cast

.

Support casts : Super Junior’s Kim Kibum, Choi Siwon, f(x)’s Victoria and others.

.

Genre : Horror, Romance

.

Disclaimer : Fict ini terinspirasi dari salah satu Urban Legend Jepang dan Korean Horror Movie : Wishing Stairs. Chara in this fict is not mine. But all plot is totally Mine!

.

Warning : GS for Uke | OOC | Bad Diction | Bad EYD | Typo (es)

.

This is just fict. If u don’t Like it, Just don’t Read!

No Bash, No Flame, No Siders, n No Copast or Plagiat please!

.

.

-o-o-o-o-

.

 

| Sungmin’s PoV |

 

“Kim Kibum, selamat. Lagi-lagi kau mendapat nilai sempurna.”

 

Suara sorak-sorai serta tepuk tangan di kelas ini semakin membuatku kesal. Terlebih lagi saat ku lihat yeoja sok baik bernama Kibum itu tersenyum dan maju ke depan kelas seraya mengambil hasil test minggu lalu dari Park Seonsaengnim. Selalu seperti ini. Para guru selalu menyanjungnya, bahkan temna-temanku seolah memujanya. Cih, dia tidaklah sesempurna itu. Bagiku dia tidaklah lebih dari anak seorang wanita yang membuat rumah tangga orangtuaku hancur. Dia perebut semua kehidupan sempurnaku.

 

Kim Kibum, anak dari yeoja yang paling ku benci –Leeteuk. Karena kehadiran Leeteuk rumah tangga kedua orangtuaku hancur dan mereka memutuskan untuk berpisah. Kini ayahku dan ibunya telah resmi menikah. Dengan kata lain, aku dan Kibum sekarang adalah saudara tiri. Dan yang lebih buruknya lagi, kini ia tinggal bersama kami –aku dan ayahku- di rumah kami. Otomatis setiap hari aku selalu melihat wajahnya yang memuakkan itu.

 

| Sungmin’s PoV End |

 

.

.

-o-o-o-o-

.

 

Sungmin tampak menatap kagum pada sosok pemuda yang tengah men-dribble bola menuju ring. Pemuda itu telah menyita perhatiannya sejak pertama kali ia menginjakkan kakinya ke sekolah ini. Choi Siwon. Dengan wajah kelewat tampan, tubuh atletis, dan prestasi akademik yang diatas rata-rata, yeoja mana yang tak akan terpikat padanya?

 

PUK

 

“Min…”

 

Omo! Kyu! Kau mengagetkanku! Dasar menyebalkan, kau menggangguku saja!” dengus Sungmin seraya menatap lagi sosok tampan yang kini tengah di kerubungi fans-nya. Sepertinya permainan tadi telah usai.

 

Kyuhyun tampak menatap Sungmin sendu. Pemuda itu, Cho Kyuhyun, adalah sahabat Sungmin sedari dulu walaupun mereka tak sekelas. Sungmin begitu bergantung pada Kyuhyun, bahkan Kyuhyun pun tahu segala hal tentang Sungmin. Namun lain Kyuhyun, lain pula Sungmin. Jika Kyuhyun tahu segala hal tentang Sungmin, termasuk ketertarikan Sungmin pada Siwon. Sungmin justru tak mengetahui atau bahkan tidak peka, bahwa namja yang selalu setia menjadi sandarannya ini sudah sejak lama memendam perasaan padanya.

 

“Kau menatapnya sembunyi-sembunyi lagi?” tanya Kyuhyun sebisa mungkin menyembunyikan nada cemburunya. Ingat, Sungmin hanya menganggap Kyuhyun sahabat. Tidak lebih. Hal itu ‘lah yang selalu di tekankan Kyuhyun dalam hatinya.

 

“Kyuhyun-ah… bagaimana ini? Aku benar-benar menyukainya…” lirih Sungmin namun tak melepaskan pandangannya sedetikpun pada sosok Siwon.

 

“Kalau begitu kau harus mengatakan langsung padanya. Dia tidak akan pernah tahu perasaanmu kalau kau terus bersembunyi dan menatapnya dari jauh seperti ini,” ujar Kyuhyun. Sungmin tampak berpikir sejenak.

 

“Kau benar, Kyu. Aku rasa aku memang harus menyatakannya duluan. Aku akan mencoba mencari waktu yang tepat,” ujar Sungmin antusias tanpa menyadari kalau Kyuhyun kini memandangnya pedih.

 

“La.. Lalu kapan kau akan menyatakan perasaanmu?” tanya Kyuhyun lagi. Setidaknya melihat Sungmin senang sudah cukup baginya.

 

“Yang pasti bukan sekarang. Aku masih butuh waktu…”

.

.

-o-o-o-o-

.

 

Suasana di ruang makan keluarga Lee tampak ceria. Sedari tadi Kangin tak hentinya bercerita tentang hal apapun yang menurutnya lucu. Kibum dan Leeteuk pun sesekali tertawa dan menimpali ucapan Kangin. Hanya Sungmin yang tampak acuh dengan suasana itu. Jujur saja, ia begitu membenci acara makan malam ini.

 

“Kibum-ahAppa dengar, lagi-lagi kau mendapat nilai sempurna, ya?” ujar Kangin tiba-tiba. Kibum yang di tanya pun tampak tersenyum sopan seraya mengangguk.

 

Ne, Appa…”

 

“Wah, hebat sekali… Sungmin-ah, cobalah sekali-sekali kau belajar dengan Kibum. Appa dengar nilaimu akhir-akhir ini menurun…” ujar Kangin pada Sungmin. Sungmin meremas pelan ujung bajunya. Sekuat tenaga ia mencoba bersabar, bahkan kali ini Appa-nya pun lebih menyayangi Kibum di banding dirinya?

 

Kibum tampak menatap Sungmin tak enak. Sebenarnya selama ini Kibum sadar kalau Sungmin sama sekali tak menyukainya. Berulang kali Kibum mencoba mendekati Sungmin. Namun setiap ia mencoba bersikap ramah pada Sungmin saat itu pula Sungmin semakin menunjukkan ketidaksukaannya pada Kibum.

 

“Sungmin juga hebat, kok, Appa… Dia juara satu lomba menyanyi minggu lalu,” ujar Kibum berusaha merendah. Namun sekali lagi, Sungmin enggan membuka suaranya.

 

“Benarkah? Tapi tetap saja, dalam bidang pelajaran kau harus bisa sepintar Kibum, Min-ah…”

 

BRAK

 

“Aku selesai,” Sungmin beranjak dari tempat duduknya. Bahkan makanannya pun belum habis. Namun ucapan Appa-nya benar-benar membuatnya sakit hati, ‘Oh, terus saja bandingkan aku dengan Kibum-si-sempurna itu.’

.

.

Selepas kepergian Sungmin, Leeteuk tampak menatap Kangin seraya berdecak kesal, “Seharusnya kau tak mengatakan hal seperti itu, Kangin-ah… Di banding-bandingkan itu jelas menyakitkan,” ujar Leeteuk. Kangin tampak terdiam menyadari kesalahannya tadi.

 

Umma benar, Appa… Seharusnya Appa tak membandingkannya denganku. Dia punya kelebihan sendiri,” ujar Kibum semakin membuat Kangin merasa bersalah.

 

“Aku benar-benar Appa yang buruk…”

.

.

-o-o-o-o-

.

 

Pagi ini suasana kelas Sungmin tampak hening. Mereka semua tampak berdebar menunggu pengumuman kenaikan kelas –yang biasanya akan di umumkan melalui layar LCD yang terpasang di lorong utama.

 

DUK

 

Hampir saja Kibum terpental dari kursinya saat tiba-tiba sesosok yeoja aneh menatapnya lekat-lekat. Yeoja itu memegang sebuah boneka –mirip boneka voodoo. Yeoja cantik namun terkenal aneh itu tampak semakin menatap Kibum lekat. Membuat Kibum bergidik.

 

“Song Qian… a-apa yang kau lakukan? Bisakah kau menyingkir? Kau… kau membuatku takut,” ujar Kibum. Perlahan yeoja bernama Song Qian itu mulai mundur, namun tatapannya belum lepas dari Kibum.

 

“Kibum-ssi, selamat…” ujar Song Qian tiba-tiba. Kibum berkerut bingung. Apa-apaan yeoja aneh ini? Selama ini dari yang Kibum tahu, Song Qian memang terkenal dengan sifat anehnya. Ia sering tiba-tiba meramal siswa di sekolah ini. Tak jarang ia menjerit-jerit sendiri dan mengatakan ada hantu di sekolah ini, segala hal yang ada pada Song Qian selalu saja berbau mistis. Maka dari itu sebisa mungkin para siswa menghindar darinya. Namun entah ada angin apa, tiba-tiba saja Song Qian menghampiri Kibum.

 

“Se-selamat untuk apa?” tanya Kibum bingung.

 

“Tentu saja karena kau akan menjadi juara kelas. Bahkan kau akan bertemu jodohmu hari ini,” ujar Song Qian dengan tatapan kosongnya.

 

Seisi kelas –termasuk Sungmin- tampak menatap adegan antara Kibum-Song Qian itu dengan tatapan aneh. Lagi-lagi Song Qian mulai beraksi. Kira-kira itulah isi pikiran seisi kelas saat ini.

 

“Hey!! Pengumuman sudah keluar!” teriak salah seorang siswa. Sontak seluruh siswa yang berada di dalam kelas, berbondong-bondong berlari menuju lobi utama.

.

.

Layar itu tampak bergantian menampilan daftar urutan peringkat di tiap kelas. Sekarang giliran kelas Kyuhyun. Kyuhyun tampak tersenyum puas, namanya jelas berada di urutan pertama –seperti biasa. Tak lama kemudian siswa dari kelas Sungmin tampak berbondong menuju layar.

 

Setelah kelas Kyuhyun, kini tiba giliran kelas Sungmin. Sungmin tampak harap-harap cemas, sementara itu Kyuhyun tampak menatap lekat layar dihadapannya.

 

“Wahh… Selamat, Kibum-ah… kau peringkat pertama!”

 

Suara pekikan salah seorang teman mereka sontak membuat Sungmin menatap lekat layar tersebut melupakan rasa gugupnya. Ternyata benar, nama Kibum berada di urutan teratas. Sungmin mendengus kecewa. Lagi-lagi ia harus puas berada di posisi kedua. Entah kenapa semenjak kehadiran Kibum sebagai murid bari pada saat semester lalu, Sungmin selalu kalah darinya. Padahal sejak kelas sepuluh, Sungmin ‘lah pemegang predikat juara pertama. Namun untuk semester ini sepertinya ia harus pasrah dengan tempat kedua.

 

Sungmin bergegas beranjak dari sana, pikirannya benar-benar kacau saat ini, ‘Hanya peringkat dua? Kenapa aku harus terus-terusan di nomor duakan?’

 

“Wah, Kibum hebat sekali, ya? Dia siswa baru tapi sudah bisa meraih peringkat pertama,” ujar Kyuhyun yang tiba-tiba saja sudah berada dihadapan Sungmin. Sungmin meremas tangannya kesal. Bahkan Kyuhyun pun memuji Kibum? Namun Kyuhyun tersadar kalau Sungmin kini terlihat murung.

 

“Min… kau kenapa? Bukankah seharusnya kau senang? Kau peringkat dua,” ujar Kyuhyun khawatir.

 

“Kyu… apa aku akan selalu jadi nomor dua?” ujar Sungmin dengan nada sedih.

 

‘Tidak, Min… Kau selalu jadi yang pertama bagiku,’ batin Kyuhyun. Ya, hanya dalam hati ‘lah ia berani mengucapkan kata-kata itu.

 

“Hey, kau ini kenapa? Kenapa jadi mudah putus asa begini? Apa kau benar-benar Lee Sungmin?” tanya Kyuhyun sedikit bercanda. Berhasil, Sungmin sedikit tersenyum. Ya, hanya Kyuhyun ‘lah yang bisa menghiburnya.

 

Namun tiba-tiba kerumunan siswa semakin riuh, “Ada apa?” tanya Kyuhyun pada siswa yang lewat di dekatnya.

 

“Choi Siwon akan menyatakan cintanya pada Kim Kibum,” ujar siswa itu kemudian berlalu dari sana. Kyuhyun melirik Sungmin ragu. Wajah Sungmin semakin murung. Sudah jelas. Hari ini peringkat pertama yang biasa Sungmin pegang telah beralih ke tangan Kibum. Dan sekarang namja yang Sungmin sukai pun, ternyata menyukai Kibum.

 

Rasa sakit itu tergambar jelas di mata Sungmin. Kyuhyun bisa merasakannya.

.

.

“Kibum-ah, sudah lama aku menyukaimu. Maukah kau jadi yeojachingu-ku?” tanya Siwon di tengah-tengah kerumunan siswa itu. Sorak sorai para siswa tampak mendukung Siwon. Sepertinya mereka benar-benar mendukung agar Kibum menerima Siwon.

 

Ne.. aku mau…” ujar Kibum malu-malu. Sontak Siwon memeluk Kibum erat diiringi tepuk tangan dan ucapan menggoda para siswa yang menyaksikan mereka.

.

.

TES

 

Sungmin benar-benar merasa tak kuat lagi. Bergegas ia berlari dari sana. Kejadian hari ini benar-benar membuatnya terpukul. Rasa bencinya pada Kibum kian memuncak saat ini. Teriakkan Kyuhyun pun tak di pedulikannya.

 

.

.

-o-o-o-o-

.

 

“Sebenarnya ada satu cara untuk mewujudkan keinginanmu sekalipun keinginan itu tak masuk akal,” suara lembut namun datar Song Qian sontak membuat Sungmin tersentak dari lamunannya. Saat ini ia hanya ingin sendiri. Bahkan telepon dari Kyuhyun pun tak ia angkat. Namun sekarang kenapa malah ada Song Qian disini? Membuat merinding saja.

 

“Kau… apa yang kau lakukan disini?” tanya Sungmin was-was.

 

“Aku suka disini. Mereka ramah-ramah,” ujar Song Qian. Sungmin menatap sekitarnya yang sunyi. ‘Mereka’ siapa yang di maksud Song Qian? Disini hanya ada pohon-pohon pinus. Setahu Sungmin tempat ini bahkan jarang di kunjungi orang lain karena letaknya yang ada di belakang sekolah –yang menurut sebagian orang- seram.

 

“Maksudmu… ‘mereka’ siapa?” tanya Sungmin takut-takut.

 

“Tentu saja penghuni disini. Mereka semua ramah-ramah,” ujar Song Qian lagi. Sungmin seketika merasa tengkuknya merinding. Sebisa mungkin ia bersikap biasa. Bukankah jika bersama Song Qian memang seperti ini?

 

“Maksudmu dengan ‘ada satu cara untuk mewujudkan keinginan’ itu apa?” tanya Sungmin bingung.

 

“Kau lihat tangga disana?” tanya Song Qian seraya menunjuk tangga yang berada tak jauh dari mereka. Tangga itu menuju sebuah bukit. Di bukit itu tampaknya ada sebuah kuburan tunggal yang di naungi sebuah pohon besar. Sungmin baru menyadari ada sebuah makam disana. Seketika ia merasa gemetar.

 

“Kau tenang saja. Sudah ku bilang mereka baik. Mereka tak akan mengganggumu jika tidak di ganggu,” ujar Song Qian. Sungmin tampak mengangguk paham.

 

“Nah, kembali lagi ke tangga. Apa kau sudah pernah dengar tentang ‘Tangga Harapan’?” tanya Song Qian. Sungmin tampak mengernyitkan dahinya bingung. Tangga harapan? Terdengar tak masuk akal.

 

“Memang tak masuk akal! Tapi itu nyata,” ujar Song Qian. Matanya menerawang menatap tangga tua tersebut.

 

“Jumlah anak tangga disana ada duapuluh sembilan. Tapi jika kau percaya dan yakin kalau kata-kataku ini bisa terjadi, lalu kau menaiki tangga tersebut sambil menghitungnya satu persatu kau akan menemukan anak tangga ke tiga puluh. Jika kau bisa menemukan anak tangga ke tiga puluh, maka harapanmu akan terkabul. Apapun itu,” ujar Song Qian.

 

Sungmin tampak menatap Song Qian ragu. Jujur saja ia tak percaya, namun… sepertinya rasa irinya yang begitu besar pada Kibum, telah menutup akal sehatnya. Apa pun caranya, ia harus bisa mengambil semua yang telah Kibum ambil darinya, prestasinya, ayahnya, keluarganya, dan… Choi Siwon.

 

“Apa anak tangga ke tiga puluh akan langsung muncul setiap kali kita mencoba?”

 

“Tentu tidak. Aku beri tahu padamu. Cobalah menghitung anak tangga saat malam hari pukul dua belas malam. Tepat saat bulan purnama. Jika kau beruntung, maka anak tangga disana akan berjumlah tiga puluh,” jelas Song Qian. Sungmin tampak mengangguk paham.

 

“Apa kau benar-benar berniat mencobanya, Sungmin-ssi?”

 

“Hmm.. Mungkin saja. Apa permohonan tentang cinta juga bisa terkabul?” tanya Sungmin penuh harap. Sepertinya ia benar-benar putus asa.

 

“Tentu saja. Tapi… untuk apa kau memohon tentang cinta? Namja-mu ‘kan sudah kau dapatkan,” Sungmin tampak menatap Song Qian bingung. Sudah dapat apanya? Yang benar sudah di ambil Kibum.

 

“Maksudmu?”

 

“Maksudku, namja yang selalu bersamamu itu,” ujar Qian.

 

“Ah… Kyuhyun… dia hanya sahabatku. Namja yang aku sukai bukan dia…”

 

“Benarkah? Sayang sekali. Dia namja yang menarik,” ujar Song Qian.

 

“Hey, apa kau menyukai Kyuhyun?” tanya Sungmin geli. Sungguh di luar dugaan jika benar yeoja seaneh Song Qian bisa menyukai namja. Terlebih lagi jika namja itu Kyuhyun.

 

“Dia pemuda yang baik. Tapi dia sudah menyukai yeoja lain,” ujar Song Qian.

 

“Benarkah? Kenapa dia tidak pernah cerita padaku, ya? Kau tahu siapa yang dia sukai?” tanya Sungmin penasaran. Song Qian tampak menatap Sungmin penuh arti.

 

“Dia menyukai yeoja yang tidak peka. Yeoja yang tak pernah menyadari perasaan tulusnya.”

 

.

.

-o-o-o-o-

.

 

‘Asal kau tahu saja Sungmin-ah… segala yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis. Ada harga yang harus kau bayar…’

 

Kata-kata Song Qian terus berputar di benaknya. Namun ia tak peduli. Ia sudah melangkah sejauh ini, sungguh sayang jika ia harus kembali pulang. Ya, Sungmin benar-benar menganggap kata-kata Song Qian serius.

 

Malam ini kebetulan sekali adalah bulan purnama, tepat jam dua belas malam, ia berdiri di depan anak tangga di belakang sekolahnya ini. Angin terasa bertiup semakin kencang, menerbangkan helai demi helai dedaunan disana. Bulan bersinar semakin terang menambah suasana semakin mencekam. Sesekali terdengar suara lolongan anjing di kejauhan.

 

Sungmin merapatkan jaketnya dan berjalan mendekati tangga tersebut. Dengan berdebar ia mulai meyakinkan dirinya kalau anak tangga ke tiga puluh itu benar-benar ada.

 

‘Ucapkan keinginanmu di dalam hati sekuat mungkin’

 

Sungmin mulai melangkah menaiki anak tangga pertama…

 

1

 

Wuuzzz

 

Angin berhembus semakin kencang. Jujur saja jika mau menuruti kata hatinya Sungmin sudah akan berlari pulang saat ini, namun lagi-lagi ia teringat kata-kata Song Qian,

 

‘Jika kau sudah berada di anak tangga tersebut, jangan coba-coba untuk berhenti. Kau harus melanjutkannya hingga selesai atau nyawamu yang akan jadi taruhannya.’

 

Sungmin kembali melangkah ke anak tangga berikutnya sambil terus berhitung. Hatinya menggumamkan keinginannya tanpa terputus.

 

Berkali-kali Sungmin merasa ada sosok yang mengawasinya. Namun egonya sudah terlanjur mendominasi. Tinggal sedikit lagi maka keinginannya akan terkabul.

.

.

27

 

28

 

Jantung Sungmin mulai berdegub cepat. Sudah hampir anak tangga terakhir. Apakah anak tangga ke tiga puluh itu benar-benar ada?

 

29

 

Sungmin merasakan napasnya tercekat. Ia telah menginjak anak tangga ke duapuluh sembilan, dan dihadapannya kini masih ada satu anak tangga lagi. Anak tangga yang tak pernah ada sebelumnya.

 

30

 

Wuzzz

 

Angin bertiup semakin kencang. Bahkan lebih kencang dari tadi. Daun-daun tampak berguguran dan pohon-pohon di sekitarnya seperti akan tumbang. Sungmin merasakan tubuhnya benar-benar bergetar hebat.

 

‘Jika kau sudah mencapai anak tangga ke tiga puluh, teriakan keinginanmu sekuat mungkin dari atas sana, lalu segeralah pulang dan jangan pernah menoleh ke belakang.’

 

“AKU INGIN KEMBALI MENJADI PERINGKAT PERTAMA DI KELAS DAN MENGALAHKAN KIM KIBUM  DALAM SETIAP PELAJARAN!!” 

 

Teriak Sungmin sekeras mungkin, sesaat setelah mengucapkan keinginannya bergegas Sungmin berlari menuruni anak tangga disana tanpa menghiraukan apa pun terjadi di belakangnya.

 

Jelas sekali kalau Sungmin mendengar suara tawa seorang wanita di iringi jeritan melengking. Samar-samar suara tangisan juga mulai mendominasi. Sungmin berlari mempercepat langkahnya. Sekuat tenaga ia berusaha mengabaikan semua itu.

 

.

.

-o-o-o-o-

.

 

Sungmin berangkat sekolah dengan tergesa. Ia ingin membuktikan apakah permohonannya benar-benar terkabul. Tanpa mempedulikan penghuni rumah lainnya yang tampak masih baru bersiap-siap, Sungmin bergegas berlari keluar rumah. Hari ini dia ada test dan ia sama sekali belum belajar. Semoga saja permohonannya semalam terkabul, sehingga tanpa perlu belajar pun ia bisa mengalahkan Kibum.

.

.

.

 

“Lee Sungmin.”

 

Jantung Sungmin berpacu cepat, bagaimana hasil test-nya hari ini?

 

“Selamat. Kau meraih nilai tertinggi,” Sungmin tampak membelalakkan matanya tak percaya. Jadi… permohonannya benar-benar terkabul? Sungmin tampak tersenyum cerah. Ucapan selamat dari teman-temannya tampak semakin membuatnya memekik senang dalam hati.

 

“Kim Kibum…”

 

“Nilaimu benar-benar turun. Apa kau tidak belajar semalam? Kalau begini terus, predikatmu sebagai peringkat satu bisa jatuh…” ujar Jung Seonsaengnim menasehati Kibum. Kibum tampak menunduk dalam dan sesekali mengangguk. Setelah itu ia kembali menuju bangkunya.

 

Sungmin tampak tersenyum puas. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang yang kau benci mengalami kejadian buruk yang pernah kau alami.

 

Namun tanpa siapapun sadari –termasuk Sungmin. Sosok Kibum kini tampak semakin memucat. Sesekali yeoja itu meringis seperti menahan sakit. Wajah seputih salju itu kini tampak benar-benar memutih.

.

.

‘Asal kau tahu saja… segala yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis. Ada harga yang harus kau bayar…’

.

.

TBC

.

 

 

13 thoughts on “FF KyuMin | Dark Wish | Horromance | GS | PART 1”

  1. oke…
    seremnya belum ada sih…
    tapi suka kalo yg misteri kayak gini…
    ming g teriakkin permintaannya mau sama siwon…
    apa keinginan ming jadi pacar nanti akan terwujud??

  2. Nahhh lohhh.. Gmnaaaa tuhh.. Waduhh..
    Kasiann ituu.. Kyuhyun oppa.. Suka sma orang tapi orang’a gak pekaaa.. Sabarr yahh mending sama a aku aja oppa aku peka kok #Plak

  3. Sungmin knp jahat bgt???
    moga” Kibum gk jd tumbalnya Sungmin dan Kyuhyun bisa nembak Sungmin *acieee #abaikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s