FF Horror | Who Are They? | SJ’s Special Friday Series : Donghae’s Story | OS


Super Junior’s Horror Fiction

.

Special for Thursday Night

.

Presented by © Sevy Lelibriani

.

Title : Who Are They?

.

Super Junior’s Lee Donghae as Main Cast

.

Disclaimer : Chara in this fict is not mine. But all plot is totally Mine!

.

Warning : OOC | Bad Diction | Bad EYD | Typo (es)

.

This is just fict. If u don’t Like it, Just don’t Read!

No Bash, No Flame, No Siders, n No Copast or Plagiat please!

.

.

-o-o-o-o-

.

 

 

BRUG

 

“Hey, culun! Gunakan matamu dengan benar ketika berjalan. Bukankah kau memiliki empat mata, huh?”

 

Aku hanya bisa menundukkan pandanganku seraya membenahi posisi kacamataku yang merosot dari posisinya semula. Lagi-lagi hal seperti ini terjadi. Ah, kalian tak perlu heran. Memang begini ‘lah kehidupanku sehari-hari di sekolah ini. Di bully dan selalu di bully. Lelah? Marah? Kesal? Tentu saja! Namun aku bisa apa?

 

Aku hanya seorang Lee Donghae. Namja culun yang hanya di pandang sebelah mata. Sekolah ini terlalu dilimpahi oleh orang-orang sempurna. Jadi jangan heran jika orang sepertiku seolah hanya seonggok debu tak berharga disini.

 

Sejujurnya aku muak diperlakukan seperti ini. Ingin rasanya aku menunjukkan di depan hidung mereka, kalau aku juga bisa seperti mereka. Aku juga bisa apa yang mereka lakukan. Namun sepertinya hanya kesempatan ‘lah satu-satunya penghalangku. Sepertinya kesempatanku untuk membuktikan diri masih belum ada.

 

Terkadang aku berdiri di depan cermin seraya memandang wajahku menilai. Tidak terlalu buruk. Mungkin hanya gayaku yang sedikit berbeda. Pakaian yang cukup —kelewat rapi, rambut yang klimis, dan kacamata tebal setebal pantat botol. Yah… menurutku ini tak terlalu buruk. Aku nyaman dengan style-ku ini.

.

.

-o-o-o-o-

.

 

Aku duduk termenung memandang kearah klub sepak bola yang sedang berlatih. Seketika perasaan iri merebak dihatiku. Klub sepak bola di sekolah kami memang sangat di elu-elukan. Berulang kali mengharumkan nama sekolah dengan membawa tropi kemenangan di berbagai ajang turnamen sepak bola. Tak heran jika setiap anggota klub itu selalu terkenal terutama di kalangan para yeoja.

 

PUK

 

Aku berjengit kaget saat ku rasakan tepukan dari seseorang di bahuku. Aku menatap bingung pada sesosok pemuda yang kini tersenyum padaku. Kim Youngwoon, manager klub Sepak bola? Rupanya ia yang membuyarkan pikiranku tadi. Ada apa pemuda itu menghampiriku? Sebenarnya wajar jika aku heran, mengingat jarang sekali ada yang mau menyapaku di sekolah ini.

 

“Lee Donghae-ssi…”

 

“K-Kau bi-bicara padaku?” ah, kenapa aku jadi gugup begini? Mungkin efek dari jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Bisa jadi.

 

“Ku lihat kau sangat suka memperhatikan anak-anak klub sepak bola berlatih. Apa kau tertarik bergabung?” aku mengernyitkan dahiku mendengar pertanyaan Youngwoon, yang menurutku terlalu impossible. Ia menanyakan apakah aku ingin bergabung? Apa bercanda? Tentu saja aku ingin sekali! Tapi aku cukup tahu diri. Tak mungkin mereka mau menerimaku.

 

“Tentu saja aku ingin… tapi… itu tidak mungkin…”

 

“Hey! Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kalau kau memang benar-benar ingin bergabung, datanglah malam ini pukul tujuh kemari. Biasanya kami berlatih pada malam hari agar lebih fokus.”

 

Aku mengerjapkan mataku tak percaya. Apakah ini mimpi? Apa orang ini tidak salah menawariku bergabung?

 

“A-apa kau serius?”

 

“Tentu saja! Datanglah jika kau sungguh-sungguh berminat. Aku rasa aku melihat potensi dalam dirimu. Sampai jumpa.”

 

.

.

-o-o-o-o-

.

 

Aku mengerjapkan mataku berusaha menyesuaikan penglihatanku yang masih samar-samar. Ku lirik jam beker yang berada di atas meja nakas di samping tempat tidurku. Pukul 18.30. Ah, sial, ternyata aku tertidur cukup lama. Tiba-tiba aku teringat janjiku pada Youngwoon untuk datang latihan hari ini. Dengan sigap aku bangkit dari tempat tidurku. Tak ku pedulikan tubuhku yang masih cukup lemas. Ah, aku bisa terlambat kalau begini.

 

Aku mandi dan mempersiapkan segala yang kubutuhkan secepat kilat. Setelah kurasa cukup. Bergegas aku berlari keluar rumah.

.

.

.

Aku terkesiap menatap sekeliling komplek rumahku. Hey, ini bahkan belum jam tujuh malam. Tapi kenapa disini terasa lengang sekali? Seperti tengah malam. Tak biasanya di komplek rumahku pada pukul segini sudah sesepi ini. Rumah-rumah tertutup rapat dan jalanan terlihat begitu sunyi. Sama sekali tak ada tanda-tanda keberadaan orang lain selain diriku.

 

Aku mengendikkan bahuku tak peduli. Toh, bukan urusanku juga, ‘kan? Bisa saja orang-orang itu terlalu lelah sehingga baru pukul segini saja sudah sepi.

 

Aku terus berjalan menuju sekolahku. Sesekali aku bersenandung kecil berusaha meramaikan suasana –yang entah kenapa semakin lama semakin mencekam. Ah, mungkin hanya perasaanku saja.

 

SLASH

 

Aku terkesiap kaget, dengan cepat aku berbalik. Nihil. Tak ada siapapun disana. Sial, aku benar-benar yakin kalau tadi ada yang melintas dibelakangku. Mataku mengedar memandang ke sekeliling jalan. Entah kenapa aku merasa seperti ada yang mengawasiku. Ah, sudahlah mungkin hanya perasaankku saja.

 

“Tenang Lee Donghae. Lebih baik kau segera ke sekolah. Mereka mungkin sudah menunggumu,” gumamku bermonolog. Setidaknya hal ini cukup menghiburku.

 

Seolah tak peduli dengan apapun yang –mungkin saja- mengawasiku. Aku mempercepat langkah kakiku menuju sekolah tanpa berniat menoleh ke belakang lagi.

 

.

.

-o-o-o-o-

.

 

DRAP DRAP DRAP

 

Aku menatap bimbang kearah lapangan tempat biasa klub sepak bola berlatih. Dari sini, aku bisa mendengar suara derap langkah kaki mereka yang sedang pemanasan. Sepertinya mereka sedang berlari mengitari lapangan. Ah, rupanya aku benar-benar terlambat. Semoga saja mereka mau memaklumi keterlambatanku.

 

Aku berjalan mengendap-endap menuju rombongan yang sedang berlari secara teratur itu. aku memilih untuk menyelinap diantara mereka, agar pelatih tak memergoki keterlambatanku. Karena dari yang aku dengar, pelatih klub sepak bola ini adalah orang yang keras dan tega menghukum siapapun anggotanya yang tidak disiplin.

 

Aku tersenyum puas. Akhirnya aku bisa menyelinap tanpa ketahuan. Aku berlari mengikuti rombongan klub ini. Benar-benar, rasanya bangga sekali bisa bergabung bersama mereka. Aku menoleh ke sebelah kananku. Setidaknya aku harus menyapa mereka ‘kan?

 

“Hey, aku Lee Donghae, anggota baru. Mohon bimbingannya.”

 

Tak ada reaksi. Sosok yang berlari disampingku ini sama sekali tak meresponku. Tatapannya lurus kedepan dan datar.

 

‘Huh, sombong sekali.’

 

Aku beralih menatap kesebelah kiriku. Formasi kami saat ini adalah tiga baris beriringan. Dengan aku yang berada di barisan paling belakang. Barisan nomor dua. Dengan kata lain aku ada di tengah-tengah paling belakang. Yang tentu saja di apit oleh dua orang ini.

 

Aku menatap heran namja yang berlari disebelah kiriku ini. Kenapa aku sepertinya tak mengenalinya, ya? Hey, klub sepak bola itu sangat populer. Jadi hanya sebagian kecil saja yang –mungkin- tidak mengenali mereka. Tapi aku yakin, aku sama sekali belum pernah melihat sosok disebelah kiriku ini. Apa dia juga anggota baru, sama sepertiku? Mungkin saja.

 

“Hey, aku LeeDonghae. Mohon bimbingannya,” ujarku sopan. Aku mengernyit heran. Lagi-lagi aku tak dihiraukan. Tak jauh berbeda dari namja disebelah kananku. Namja disebelah kiriku ini juga sama sekali tak menghiraukanku. Pandangannya lurus kedepan dan wajahnya begitu dingin.

 

‘Apa ini peraturan, ya? Tak boleh bicara selama latihan? Baiklah, aku juga akan begitu.’

 

“PUTAR BALIK!”

 

SRAT

 

Aku terkaget, serentak seluruh anggota klub berbalik arah. Dengan canggung aku juga memutar tubuhku dan kembali berlari. Kali ini posisiku paling depan. Walaupun sedikit tak biasa, aku tak peduli. Aku terus berlari hingga menuju ke tempat pelatih berdiri. Ketika melewatinya  seketika aku tersentak kaget.

 

Seingatku pelatih tim sepak bola adalah Hangeng Seonsaengnim. Tapi… aku yakin yang tadi berdiri disana dan memberi kami perintah bukanlah Hangeng Seonsaengnim. Aku sangat yakin. Lalu… siapa itu? Apakah itu pelatih baru?

 

Aku menoleh ke siswa yang berada tepat di belakangku. Sekali lagi aku tersentak. Aku tak mengenalnya. Wajahnya sama datarnya dengan dua siswa di kiri-kananku. Kembali pandanganku mengedar, menelusuri satu-persatu wajah siswa yang terjangkau oleh pengelihatanku.

 

Seketika ku rasakan jantungku berpacu cepat. Tak ada satupun dari mereka yang aku kenal. Seingatku di klub ini ada Lee Sungmin, siswa sekelasku. Ada juga Choi Siwon, ketua osis kami –yang sudah bisa dipastikan- wajahnya sangat familiar di kalangan siswa sekolahku. Tapi… diantara para siswa ini, tak satupun dari mereka ada disini. Semua yang ada disini asing. Satupun tak ku kenal.

 

Aku kembali memandang kearah depan. Aku terus berlari, namun pikiranku pun juga ikut berlari. Pikiranku terus berputar. Siapa sebenarnya mereka ini?

 

ZLAP

 

Aku tersentak tersadar dari pikiranku. Lampu-lampu di area sekolah ini tiba-tiba saja padam. Tak ayal, pencahayaan di tempat latihan kami pun menghilang. Hanya gelap gulita yang tersisa. Tiba-tiba saja aku merasakan kesunyian. Ku tolehkan kepalaku ke belakang.

 

DEG

 

Kemana mereka semua? Bagaimana mungkin? Aku sangat yakin kalau tadi di belakangku masih ada anggota klub. Tapi sekarang tak satupun dari mereka ada disini. Hanya aku yang tersisa.

 

PRITTT

 

ZLAP

 

Aku menyipitkan mataku ketika tiba-tiba saja lampu yang menjadi penerangan di lapangan ini menyala. Silau. Samar-samar aku melihat sekelompak klub sepak bola sedang berlari saling oper-mengoper menggiring bola. Aku terkesiap. Bukankah tadi tak ada siapapun disini?

 

Kulihat mereka tampak begitu serius berlatih. Wajah mereka masih sedatar tadi. Sang pelatih sesekali meniupkan pluit yang tergantung dilehernya.

 

Aku menatap ling-lung sekitarku. Tiba-tiba saja aku merasa kalau aku kini telah berada di tengah-tengah mereka. Secara reflek aku mulai mengikuti mereka. Berlari dan mulai mengejar bola. Namun tak sekalipun salah satu dari mereka mengoper bola kearahku seolah aku tak ada. Aku mendengus kesal. Rupanya mereka tak mau menganggapku?

 

Baiklah. Akan ku tunjukan siapa sebenarnya aku. Aku bergegas berlari berusaha merebut bola. Ya, aku tahu kami tim, bukan lawan. Tak seharusnya aku merebut bola layaknya lawan. Namun mau bagaimana lagi? Mereka sama sekali tak memberiku kesempatan untuk mengendalikan bola.

 

Ketika melihat peluang, dengan sigap aku segera merebut bola. Dengan puas ku giring bola tersebut. Namun, sepertinya ada yang aneh. Dengan ragu aku mulai memperlambat kecepatan berlariku. Aku merasa aneh. Kenapa yang ku giring ini, terasa seperti bukan bola? Dengan sedikit gugup, aku menatap benda yang berada tepat di kakiku ini.

 

Kepala.

 

Aku melotot tak percaya. Rupanya yang sedari tadi ku giring ini….

 

“AAAAA…”

 

Aku berlari mundur. Seketika aku teringat anggota tim. Suasana disini kembali lengang. Namun bukan karena tak ada siapapun. Anggota tim masih jelas berada disini. Aku semakin merasa ada yang ganjil disini.

 

Dengan tatapan takut, ku lirik satu per satu wajah anggota tim. Mereka tampak menatapku marah. Mereka seperti begitu benci dengan kehadiranku. Aku menelan ludahku gugup. Sekarang aku yakin, kalau aku sama sekali tak mengenal mereka. Wajah mereka tampak asing. Tak ada anggota tim sepak bola yang berwajah seperti mereka. Bahkan aku tak yakin mereka semua juga tercatat sebagai siswa di sekolah ini.

 

Perlahan wajah mereka berubah semakin pucat. Mereka tampak berjalan mendekatiku. Sedikit-demi sedikit tatapan mereka terlihat kosong. Kalian harus tahu, bukan kosong dalam hal menatap. Tapi kosong benar-benar kosong! Rongga mata mereka kosong. Sama sekali tak ada bola mata disana.

 

“AAAAA…”

 

Aku berbalik dan mencoba untuk berlari menuju keluar sekolah. Aku berlari secepat yang aku bisa. Sesekali aku menoleh ke belakang. Tak ada siapapun. Aku mendesah lega. Syukurlah mereka tak mengejarku.

 

DRAP DRAP DRAP

 

DEG

 

Dengan gugup aku beralih menatap kearah depan. Tepat dari arah gerbang sekolah, kulihat segerombolan anggota tim sepak bola itu berlari. Persis seperti saat pemanasan tadi. Tatapan mereka tampak menuju kearahku.

 

“AAAA…”

.

.

.

PRIITTT

 

Aku tersentak bangun, saat ku dengar suara pluit. Aku mengerjapkan mataku dan melirik kearah jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.

 

19.00

 

Baru pukul tujuh malam? Apa yang tadi hanya mimpi?

 

“Haah… syukurlah…”

 

Bergegas aku bangkit dari dari posisiku. Sial, rupanya tadi aku tertidur hingga melewatkan waktu latihan. Syukurlah mereka belum pulang. Aku berjalan kearah para anggota yang sedang berlatih.

 

“Aww…”

 

Sial, kenapa tubuhku terasa lelah sekali? Kakiku sakit sekali seperti telah berlari jauh. Ah, persetan. Aku tak peduli. Yang penting sekarang aku harus berlatih.

 

“Kau sudah bangun Lee Donghae? Hey, semua! Lee Donghae akan masuk ke tim. Sekarang lanjutkan latihan kalian!”

 

Mereka semua tampak tersenyum kearahku.

 

PRITT

 

Kembali suara pluit ditiup, pertanda kami harus kembali mulai berlatih. Seorang namja tinggi tampak menggiring bola kearahku. Sepertinya ia hendak mengoper bola tersebut kepadaku. Tepat. Bola itu menggelinding kearahku dan berhenti tepat di kakiku.

 

DEG

 

Napasku seketika tercekat. Ini…. Bukan bola…. Tapi…

 

Kepala manusia?

 

Dengan tubuh gemetar aku beralih menatap wajah setiap anggota tim yang tampak tengah menatapku tajam. Mereka tampak menyeringai kearahku. Semakin lama seringai mereka terlihat semakin mengerikan.

 

Aku berbalik dan berlari. Kenapa ini? Ada apa dengan klub ini? Tak ku pedulikan kakiku yang terasa begitu sakit. Terus ku pacu langkahku. Aku harus pergi! aku harus pergi dari mereka!

.

.

DEG

 

Seketika langkahku terhenti. Sosok pelatih –yang tak ku kenal- itu tampak berdiri di depan gerbang sekolah. Ia menatapku dingin.

 

“Kenapa kau berlari?” perlahan pelatih itu mulai berjalan mendekatiku. Secara naluri, kakiku terus melangkah mundur seiring dengan langkah pelatih itu yang semakin mendekat.

 

“Kenapa kau tidak berlatih?” aku semakin menelan salivaku gugup. Tatapan pelatih itu begitu menusuk tepat ke manik mataku.

 

“Cepat kembali berlatih!”

 

“Dan giring bolamu…” aku menatap heran pelatih itu. ia berhenti melangkah, otomatis langkahku pun juga terhenti.

 

Tak lama kemudian ku lihat kepala pelatih itu bergetar. Seolah ia tak sanggup menopang berat kepalanya, dan sesuatu yang tak ku sangka-sangka pun terjadi.

 

Kepala pelatih itu lepas dari tempatnya jatuh menggelinding kearahku dan berhenti tepat di bawah kakiku. Napasku tercekat. Aku ingin berlari namun tubuhku terasa begitu kaku.

 

Mataku menatap kepala itu tak percaya. Ingin rasanya menjerit namun suaraku seperti tertahan di kerongkongan. Perlahan, kepala yang berada di kakiku itu tampak berbalik. Matanya yang semula tertutup, tiba-tiba saja membuka lebar dan menatap tajam kearahku.

 

“Tunggu apa lagi? Cepat giring bolamu!”

 

“AAAAAAAAA….”

 

.

.

-o-o-o-o-

.

 

“Lee Donghae-ssi, sadarlah…”

 

Suara seseorang menghempaskanku kembali ke dunia nyata. Aku mengerjapkan mataku dan menatap ke sekelilingku. Ku lihat segerombolan siswa sekolahku tampak mengerubungiku –termasuk orang-orang yang hobi mem-bully-ku. Mereka tampak saling berbisik-bisik seraya menunjuk kearahku.

 

Ku tatap sekitarku. Rupanya ini tepat di gerbang sekolah. Kenapa aku bisa disini?

 

“Aku… aku kenapa Seonsaengnim?” tanyaku pada namja yang membangunkanku tadi. Rupanya beliau Park Seonsaengnim.

 

“Kau pingsan disini. Sebaiknya kau ke UKS saja. Kajja, biar ku antar.”

 

.

.

-o-o-o-o-

.

 

 

Aku menatap lekat sosok Youngwoon yang kini tengah menjengukku. Jujur saja, aku ingin protes, kenapa semalam tak ada anggota satupun yang berlatih? Yang ada malah… sudahlah aku tak mau membahasnya.

 

“Kau menipuku Youngwoon-ssi? Semalam aku kemari dan tak ada satupun anggota sepak bola yang berlatih.”

 

Youngwoon tampak menatapku heran, “Kau bercanda? Semalam kami berlatih dari pukul tujuh hingga pukul sepuluh. Aku terus menunggumu namun kau tak kunjung datang. Ku pikir kau hanya main-main,” ujar Youngwoon serius. Sepertinya ia tak bercanda. Tapi… aku benar-benar yakin kalau semalam aku tak melihat mereka.

 

“Kau… serius? Apa setelah kalian ada yang berlatih lagi? Dari sekolah lain?” tanyaku gugup.

 

“Tidak ada… hanya kami yang terakhir kali menggunakan lapangan untuk berlatih.”

 

“Lalu… siapa mereka?” gumamku lirih. Youngwoon tampak menatapku bingung. Namun aku lebih bingung lagi. Siapa sebenarnya yang berlatih bersamaku semalam? Seketika bulu kudukku meremang.

 

.

.

-o-o-o-o-

.

Flashback | Normal Pov

 

“Donghae-ya… sebaiknya kau lekas ganti baterai jam di kamarmu itu. Jam mu itu mati. Nanti kau bisa terlambat sekolah jika kau biarkan seperti itu,” teriakan sang Eomma  hanya di anggap angin lalu oleh Donghae. Matanya tetap setia membaca buku setebal kamus itu.

.

.

.

Donghae terbangun buru-buru. Ia baru sadar kalau ia harus latihan sepak bola malam ini. Diliriknya jam yang berada di meja nakasnya. Pukul 18.30. Bergegas ia bersiap dan berlari keluar rumah tanpa menghiraukan bahwa jam di ruang tamu telah menunjukkan pukul 00.13.

.

.

-END-

 

 A/N : Fict ini sebenernya mau di post pas malem jumat. tapi terpaksa harus di pending hingga jumat pagi. fict ini seri pertama dari “Super Junior’s Special thursday night/ friday series”. 

Buat yang Siders. biasakanlah untuk menghargai karya orang lain. apa susahnya, sih komen sepatah-dua patah kata untuk ribuan kata yang sudah saya ketik? jangan pas udah di protect baru pada nongol ngerusuhin akun-akun sosmed dan nomer saya. belajarlah buat menghargai orang lain. 

thanks.

10 thoughts on “FF Horror | Who Are They? | SJ’s Special Friday Series : Donghae’s Story | OS”

  1. FF ini sukses bikin merinding disko -,-‘
    Pas banget lagi sendirian dirumah *gemetar
    But I like this FF ^^b
    Ditunggu FF Series selanjutnya ya.
    Keep writing~
    *lambai tangan bareng KyuMin ^^/

  2. Annyeonghaseyo, author-nim~
    Kbetulan sy iseng mampir kesini pas ngeliat comment di blog dan akhirnya baca ff ini deh hehe^^
    Thumbs up! Ditunggu friday series lainnya(dgn cast kyumin tentunya).
    Fighting!😀

  3. nitip like dulu ajah,

    gak berani baca skrang mah. :p

    aku reader baru. Gak baru sih, soalnya dulu pernah baca ffmu,, tapi aku kehilangan jejak,,🙂 malah aku pernah sms kamu. I’m namja.. ^^
    ingaaat???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s