Harry Potter’s Fict | The Best Way for Us [DraMione Ver.] | OS


A DRAMIONE FANFICTION

.

THE BEST WAY FOR US

.

Written by DraconiSparkyu © 2013

.

Disclaimer : All casts in this fict are belong to JK. ROWLING. But, all plot of this fict originally MINE. Fict ini merupakan Fict pertamaku di fandom HPI, sebelumnya fict ini juga sudah pernah di publish di fandom Screenplays, dengan kata lain fict ini adalah Remake dari fict saya sendiri. Maaf apabila masih banyak terdapat kekurangan.

 

Warning : Songfic | contain some Typo (s) | OOC | EYD tak sesuai | AU | No Magic | Muggle World |

 

Flame or Bash not allowed here. If you don’t like this fict, just don’t read.

.

Song Title : Seventeen – Jalan Terbaik

 

~oOoOoOo~

 

Normal PoV

 

“ARRGGH…!!!” pemuda bersurai platina itu terlihat begitu frustasi, tampak raut suntuk terukir di wajah tampan tersebut. Sebegitu beratkah masalahnya hingga pasir-pasir di pantai itu menjadi pelampiasannya? Pemuda itu kini meringkuk di tepi pantai. Tak dipedulikannya pakaiannya yang kotor serta basah, yang ada dipikirannya hanyalah meluapkan amarah dan kekesalannya. Ya, hanya pantai inilah yang begitu setia menjadi tempat pelampiasan baginya. Tempatnya meluapkan segala beban yang menghimpitnya selama ini.

 

Flashback

 

“Sudah kubilang aku tak mau, Dad !” teriak seorang pria yang kini tengah duduk dihadapan Ayahnya. Namun sang Ayah hanya memandangnya dingin dan kemudian mendengus kesal.

 

“Aku tak peduli. Mau tidak mau kau harus menerima perjodohan ini.” Ucap sang Ayah geram.

 

“Aku bukan alat untuk memperlancar bisnis Dad. Aku ini anakmu. Tak bisakah sedikit saja kau menganggapku anakmu?” ucap lelaki itu lemah.

 

“Diam kau Draco. Kau hanya perlu menerima perjodohan ini. Apa susahnya? Lagipula Astoria itu cantik dan berpendidikan.” Ucap sang ayah berang. Suasana di ruang tengah keluarga Malfoy kini begitu menegangkan. Kilatan amarah muncul diantara manik mata kedua ayah dan anak itu.

“Aku sudah dewasa, Dad. Aku bisa mengatur hidupku sendiri. Kau tak perlu repot-repot mencarikanku istri.” Ucap Draco dingin. Tak ayal, emosi Sang Ayah –Lucius Malfoy- yang tadinya mulai mereda kini mulai tersulut amarah lagi.

 

PLAKK

 

“Dasar anak kurang ajar! Aku tak pernah mendidikmu untuk menjadi anak pembangkang seperti itu. Aku tak peduli, pernikahanmu akan dilangsungkan bulan depan!” tegas Lucius bernada final kemudian pergi meninggalkan Draco. Sementara Draco hanya menatap nanar punggung ayahnya sembari mengusap darah yang mengalir disudut bibirnya.

 

Flashback End

 

 

Tak henti-hentinya pria itu berteriak dan menendang pasir di pantai tersebut, seolah dengan begitu segala masalahnya akan menghilang bersama butiran-butiran pasir tersebut.

 

“ARRGGHH…!”

 

“Auw, hey, jangan menedang sembarangan. Kau membuatku kelilipan.” sontak suara lembut seorang wanita mengintrupsi segala kelakuan aneh pria itu. Hey, siapa yang telah berani mengusik seorang Draco Malfoy? Perlahan Draco membuka matanya dan berniat menumpahkan amarahnya pada orang yang mengganggunya, namun niatnya terhenti saat dilihatnya seorang gadis kini tengah mengucek matanya.

 

DEG

 

Seketika napas Draco seolah berhenti selama beberapa saat. Matanya tak berkedip memandang wajah ayu yang kini sedang mengusap matanya semakin cepat. Mata foxy itu kini memerah. Seolah tersadar dari lamunan jangka panjangnya, Draco segera menarik tangan gadis itu dari matanya dan mendekatkan wajahnya kewajah gadis tersebut.

 

“Hey, mau apa kau?!” Tanya gadis itu takut-takut, seolah pria dihadapannya adalah seorang pria mesum yang berniat macam-macam padanya.

“Tenang saja. Aku hanya ingin meniup matamu.” Ujar Draco lembut.

“Tak perlu, aku bisa sendiri.” Ucap gadis itu dan kembali mengucek matanya, sepertinya gadis itu masih kesal dengan insiden yang menimpa matanya beberapa saat lalu.

 

“Hey, jangan dikucek, nanti bisa iritasi. sini biar ku tiup.” Ucap Draco sambil menarik tangan gadis dihadapannya dan kemudian meniup mata gadis itu lembut. Tanpa mereka sadari kini jantung mereka saling berpacu cepat.

.

.

~oOo~

.

.

Kini mereka berdua duduk berdampingan di bangku yang ada di pantai tersebut sambil menikmati pemandangan sore hari di pantai tersebut, belum ada satupun yang membuka suara sejak kejadian tadi. Mungkin mereka sama-sama masih canggung. Merasa suasana begitu kaku, akhirnya Draco memberanikan diri untuk membuka percakapan.

 

“Hmm.. Namaku Draco, Draco Malfoy.” Ucap Draco sambil tersenyum pada gadis manis disampingnya ini. Melihat senyum lembut milik Draco, akhirnya gadis itu pun tersenyum. Sekejap Draco terpana menatap senyum itu.

 

“Hermione, Hermione Granger.” Ucap gadis yang ternyata bernama Hermione itu. Lagi-lagi Draco merasakan jantungnya berdegup tak karuan. Apa ini yang dinamakan cinta? Kini suasana kaku diantara mereka perlahan mencair, obrolan-obrolan ringan mulai mengalir lancar dari keduanya. Tanpa terasa waktu sudah semakin sore.

 

“Eh, Malfoy. Sudah sore, aku pamit dulu, ya.” Ucap Hermione bersiap untuk pulang. Sementara Draco tak mau menyia-nyiakan kesempatan lagi, segera disusulnya gadis itu.

 

“Bagaimana kalau ku antar?”

.

.

~oOo~

.

.

 

Tak terasa dua minggu sudah Draco dan Hermione saling mengenal, dan hubungan mereka  pun semakin akrab. Namun ada satu hal yang terus membayangi Draco, yaitu mengenai masalah perjodohannya yang tinggal satu minggu lagi. Biar bagaimanapun dia tetap tak bisa melaksanakan perjodohan itu, karena kini ia sadar kalau hatinya kini milik Hermione, gadis polos namun, well sedikit galak yang ditemuinya dua minggu yang lalu.

 

Hari ini Draco berniat menemui Hermione di pantai tempat pertama kali mereka bertemu, dan hari ini pula ia berniat menyatakan cintanya pada gadis manis itu. Tak peduli jika nanti orang tuanya menentang hubungannya dengan Hermione. Yang ada dipikirannya hanyalah memperjuangkan cintanya.

.

.

~oOo~

.

.

Draco tersenyum mendapati gadis yang dicintainya kini duduk sendirian di pantai itu, perlahan didekatinya gadis itu dan duduk disampingnya.

 

“Malfoy? Kau kemari lagi?” Tanya Hermione sambil tersenyum.

 

“Kenapa? Kau bosan ya melihatku?” jawab Draco bercanda.

 

“Tentu tidak… aku malah senang bertemu denganmu lagi.” DEG~ ucapan polos Hermione membuat jantung Draco semakin berdetak cepat.

 

“Hermione..” panggil Draco gugup. Sontak Hermione memalingkan wajahnya menghadap Draco. Yang benar saja, ini semakin membuat Draco gugup!

 

“Ya, Malfoy? Ada yang ingin kau katakan?”

 

I love you. Maukah kau menjadi kekasihku?” seketika perasaan lega memenuhi rongga dada Draco. Akhirnya ia berhasil mengungkapkan isi hatinya pada pujaan hatinya ini. Namun Draco kembali merasa gugup, karena tak mendapat respon dari Hermione. Apa gadis itu marah padanya dan menganggapnya pria playboy yang hanya dalam waktu dua minggu saling mengenal kemudian langsung menyatakan cinta? Namun sepertinya perkiraan Draco salah besar,

 

I love you too, sepertinya aku juga merasakan hal yang sama padamu, Draco…” ucap Hermione sambil tersenyum kemudian menundukan kepalanya malu-malu. Sontak Draco mengangkat kepalanya dan menatap Hermione tak percaya.

 

“Kau milikku, Hermione Granger…”

 

.

.

~oOo~

.

.

 

Draco melangkahkan kakinya menaiki tangga sambil tersenyum, akhirnya Hermione resmi menjadi kekasihnya. Namun langkahnya terhenti saat didengarnya suara seorang pria yang tak asing ditelinganya.

 

“Darimana saja kau Draco?” Tanya Lucius.

 

“Tidak dari mana-mana.” Jawab Draco cuek dan berniat pergi dari tempat itu. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti.

 

“Ingat, pernikahanmu tinggal dua minggu lagi. Jangan coba-coba untuk menolak lagi.” Seketika tangan Draco mengepal kuat. Kali ini dia tak boleh kalah, dia harus mempertahankan Hermione disisinya.

 

Sorry, Dad. Aku sudah punya kekasih. Kuharap Dad jangan memaksaku lagi.” Kali ini dia benar-benar pergi dari hadapan pria paruh baya itu.

 

.

.

~oOo~

.

.

 

Draco mengembuskan napasnya berat sembari menyenderkan kepalanya dibahu Hermione, hari ini mereka menghambiskan waktu berdua di taman bermain. Tampak Draco begitu manja kepada Hermione, seolah waktunya untuk bisa bersama Hermione hanya tersisa beberapa menit lagi.

 

“Kau kenapa, Drake? Hari ini kau manja sekali?” Tanya Hermione lembut sembari mengusap lembut pipi tirus nan pucat Malfoy junior tersebut, sementara Draco memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Hermione pada wajah tampannya.

 

“Tak ada apa-apa, Dear. Aku hanya merasa sangat bahagia saat ini karena telah memilikimu. Aku merasa menjadi pria paling beruntung di dunia” Jawab Draco sambil terus memejamkan matanya. Sementara Hermione hanya tersenyum sambil menunduk menyembunyikan rona merah muda yang kini telah muncul dipipi-nya. Benar-benar pasangan yang akan membuat orang lain merasa iri.

 

Sekali lagi Draco menghembuskan napasnya berat, sungguh ia tak rela jika harus meninggalkan Hermione, dia begitu mencintai gadis itu. Jika bisa memilih, rasanya ia tak ingin dilahirkan sebagai putra keluarga Malfoy, semakin dieratkannya pelukannya pada Hermione. Sementara itu Hermione pun sadar, pasti ada yang disembunyikan oleh kekasihnya ini, namun ia tak berniat menanyakannya pada Draco. Dia takut pertanyaannya akan semakin membebani Draco. Yang dia ingin, Draco hanya merasa nyaman saat berada disisinya.

.

.

~oOo~

.

.

“Boleh Dad tahu siapa kekasihmu itu, Draco?” lagi-lagi suara yang memuakan ditelinga Draco itu terdengar lagi. ‘Mau apa lagi orang ini?’ batin Draco gerah,

Dad mau apa? Aku tak akan membiarkan Dad melukainya.” Jawab Draco dingin. Pria tua itu tersentak, sepertinya putranya kini tengah mengibarkan bendera perang. Jujur, baru kali ini Draco berlaku begitu, selama ini Draco selalu menuruti apapun perintahnya. Apa gadis itu begitu penting bagi Draco? Perlahan dihembuskannya napasnya dan berkata,

 

“Baiklah, Draco. Dad akan coba mengalah kali ini. Kalau memang itu pilihanmu akan Dad hargai. Besok kau bawa gadis itu kemari.” Mata Draco sontak melebar, apa dia tak salah dengar? Dad menyuruhnya membawa Hermione kemari? Apa ini pertanda kalau dia dan Hermione akan mendapat restu? Senyuman mengembang diwajah tampannya,

 

Benarkah? Thanks, Dad”

.

.

~oOo~

.

.

Hari ini Draco begitu ceria, tak sabar rasanya ia ingin bertemu Hermione dan menyampaikan kabar gembira ini, ia berniat mengenalkan Hermione kepada ayahnya hari ini.  Ia yakin, pasti ayahnya akan menyukai Hermione.

 

Sayang…” panggil Draco lembut sambil mengelus pucuk kepala Hermione sambil sesekali menciuminya, meresapi wangi strawberry yang menguar dari rambut halus itu.

“Ya? Kenapa, Drake?”

“Kau mau tidak ke rumahku? ayahku ingin berkenalan denganmu.” Ucap Draco  memancarkan rona kebahagiaan diwajahnya. Seketika wajah Hermione Nampak gugup, Hermione menundukan wajahnya.

 

“Kenapa, Dear? Kau tidak mau?” sontak Hermione menggelengkan kepalanya cepat.

 

“Bukan, Drake. Aku hanya gugup. Aku takut ayahmu tidak menyukaiku.” Draco tersenyum mendengar ucapan polos Hermione. Di bawanya Hermione kepelukannya dan mendekapnya erat,

 

“Aku yakin pasti Dad akan menyukaimu, Dear. Kau mau, kan?” bujuk Draco sembari melepaskan pelukannya dan menarik dagu Hermione. Memaksa Hermione untuk menatap matanya. Melihat sorot mata Draco yang begitu menenangkan, tanpa sadar Hermione mengangguk pasrah. Senyum manis tercetak dibibir Draco, perlahan diarahkannya kepalanya mendekati Hermione. Mencoba mempertemukan bibirnya dengan bibir plump milik Hermione,

 

CHU~

 

Bibir tipis Draco mendarat dengan sukses diatas bibir Hermione. Dikecupnya bibir manis itu perlahan seolah tak mau melukai belahan jiwanya ini, dilumatnya bibir mungil yang membuatnya kecanduan itu penuh cinta. Seolah terbawa suasana, Hermione kini mengalungkan tangannya di leher Draco. Ciuman penuh cinta itu terus berlanjut entah sampai berapa lama. Tak satupun dari mereka yang berniat  mengakhirinya lebih dulu.

.

.

~oOo~

.

.

“Drake.. aku gugup.” Lirih Hermione sambil menarik tangan Draco. Ya, sekarang mereka berada di depan manor keluarga Malfoy. Sebenarnya Draco juga tak kalah gugup dari Hermione, namun dia berusaha terlihat tenang agar Hermione juga rileks.

 

“Tenanglah, Dear. Semuanya akan baik-baik saja.” Ucap Draco sembari tersenyum lembut, seketika perasaan Hermione jadi lebih tenang setelah melihat senyum lembut Draco.

 

“Oke, Drake.”

.

.

.

.

“Jadi, wanita ini pilihanmu, Draco?” Tanya Ayah Draco dingin. Diperhatikannya Hermione dari atas sampai bawah, seolah menilai sosok gadis didepannya ini. Hermione yang merasa ditatap begitu lekat, kini gemetar gugup dan bersembunyi dibalik punggung Draco.

 

“Tenanglah, Dear.” Ucap Draco sambil merangkul Hermione.

Dad, kau menakutinya!”

 

“Jadi, siapa namamu?” Tanya Lucius sambil menatap Hermione. Tak dihiraukannya kata-kata Draco tadi.

 

“Her.. Hermione Granger, Sir.” Jawab Hermione gemetar. Sontak ayah Draco menatap semakin lekat padanya.

 

“Hermione Granger? Siapa nama ayahmu?” Tanya ayah Draco lagi.

 

“Nama ayahku William Granger. Ada apa, Sir?” Tanya Hermione bingung.

 

“Apa katamu? Kau putri dari William Granger? Pergi kau dari sini! Sampai kapanpun aku tak akan pernah merestui putraku denganmu. PERGI KAU…!” teriak ayah Draco bernada final. Tak ayal, rasa sakit menyelimuti hati Hermione, Draco pun tak kalah kaget,

 

“Apa maksudmu, Dad? Kau sudah berjanji padaku akan menghargai pilihanku.” Lirih Draco tak terima.

 

Dad  merestuimu dengan siapa saja asal bukan anak dari William Granger. Kau mengerti?”

 

“Tapi kenapa, Dad? Aku tak ingin yang lain. Yang kucintai hanya ‘Mione!” bantah Draco lagi. Sementara Hermione kini gemetar ketakutan mendengar pertengkaran antara ayah dan anak dihadapannya ini.

 

“Aku tak peduli. Minggu depan kau akan menikah dengan Astoria, jangan harap kau bisa menghindar. Dan kau gadis tak tahu diri, jauhi anakku.” Ucap ayah Draco kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Tangis Hermione kini pecah, segera Draco menarik tubuh rapuh itu ke pelukannya.

 

.

.

~oOo~

.

.

Granger’s House

 

“Mione, kemarilah sebentar.” Seorang pria dan juga wanita paruh baya memanggil lembut Hermione. Hermione tersentak dari lamunannya.

“Ada apa, Mom, Dad?” wanita paruhbaya yang dipanggil Mom oleh Hermione pun mendekat dan mengelus kepala Hermione penuh kasih sayang.

“Begini, Mione. Kau tahu Theodore Nott, kan? Anak dari rekan bisnis Dad yang kini tengah mengurus perusahaan Nott’s Group.”

 

“Ya, memangnya ada apa, Dad?” Tanya Hermione bingung.

“Dia ingin mempersuntingmu, Mione. Dad tidak akan memaksamu, jika kau tidak mau-”

“Aku mau, Dad. Aku akan menerima lamarannya.” Ucap Hermione memotong perkataan ayahnya. Tekadnya sudah bulat, dia akan melupakan Draco. Lagipula Draco juga akan menikah, apalagi yang bisa diharapkannya?

 .

.

~oOo~

.

.

Draco’s Wedding

 

Seorang gadis manis berambut semak berjalan anggun memasuki area gedung tempat resepsi pernikahan kekasihnya, ah tidak, mantan kekasih lebih tepatnya. Dikuatkannya hatinya agar tak menangis saat ini juga. Hey, kau pasti tahu bagaimana rasanya jika kau melihat orang yang kau cintai sepenuh hatimu kini bersanding dengan orang lain tepat dihadapanmu sendiri. Itulah yang dirasakan Hermione saat ini, namun ia harus terlihat kuat. Walaupun raga Draco bukan miliknya lagi namun ia yakin hati Draco masih tetap miliknya.

 

Lamunan Hermione buyar ketika dillihatnya seorang wanita berjalan anggun menuju altar, tak jauh dari sana seorang pria tampan mengunakan tuxedo putih bersiap menyambut wanita itu. Ya, pria itu Draco. Akhirnya pernikahan itu dilangsungkan dengan khidmat. Tak tahan lagi, akhirnya air mata itu tumpah di pipi Hermione. Sepintas Draco melihat kearah Hermione, ditatapnya gadis itu dengan sendu. Merasa risih, akhirnya Hermione berlari keluar, tanpa pikir panjang Draco segera berlari menyusul Hermione. Bahkan panggilan dari Astoria pun tak dihiraukannya.

.

.

 

.

 

Hermione kini menangis sepuasnya di taman yang tak jauh dari tempat pernikahan Draco, hatinya begitu sakit saat ini. Tanpa ia sadari, seorang pria bersurai perak platina menatapnya dengan tatapan sayu.. pria itu Draco, perlahan Draco berjalan mendekati Hermione.

 

“Mione, aku mohon jangan menangis, Dear.” Lirih Draco sambil menghapus jejak air mata dipipi Hermione. Di bawanya gadis mungil itu kepelukannya. Ia tak percaya ia telah menyakiti wanita yang dicintainya ini.

 

“Kau kenapa berada disini, Draco? Pernikahanmu…”

 

“Sstt.. jangan bahas itu lagi, Dear… kau tahu aku terpaksa melakukan itu.”

 

“Drake, ada yang ingin kukatakan padamu.” Ucap Hermione sembari melepaskan pelukan Draco. Sedikit tak rela Draco melepaskan dekapannya pada gadis itu.

“Apa, Dear?” Hermione menghela napasnya seolah mencari kekuatan untuk mengatakan hal ini.

“Aku akan menikah…minggu depan.” Lirih Hermione. Katakan ini hanya mimpi! Serasa ribuan batu besar menghantam kepala Draco, ia tak bisa mempercayai ini.

“Kau bercanda,kan, Sayang? Kau bohong, kan?” namun tangis Hermione semakin kencang, cukup bagi Draco untuk tahu kalau itu bukanlah bohong.

“Cepat kembali, istrimu dan para tamu sudah menunggumu.” Suruh Hermione dengan suara serak. Draco hanya memandang Hermione sendu.

 

“Ijinkan aku untuk menciummu untuk terakhir kalinya, Mione…”

 

Semua telah berakhir

Tak mungkin bisa dipertahankan

Hanya luka jika kita bersama

Karena jalan ini memang berbeda

.

.

~oOo~

.

.

 

 

40 tahun kemudian

 

Grandma, ayo cepat. Katanya Grandma mau mengajak Theo ke pantai favorit Grandma.” Rengek seorang bocah berusia sekitar lima tahunan pada neneknya. Wanita tua itu hanya tersenyum. Sudah lama rasanya ia tak ke pantai itu. Pantai yang penuh dengan kenangannya bersama lelaki yang sangat dicintainya, bahkan hingga sekarang. Ya, wanita yang dipanggil Grandma itu adalah Hermione. Ia begitu merindukan pantai ini, pantai yang dulu pernah mempertemukannya dengan pria paling berharga di hidupnya. Draco Malfoy. Berpuluh tahun lamanya, Hermione berusaha melupakan Draco, namun nyatanya hal itu sia-sia. Bahkan hingga saat ini, di usianya yang sudah memasuki penghujung hayatnya, hanya Draco lah yang masih setia berada didalam hatinya.

 

“Grandma…!”

Ya, sayang.. ayo kita berangkat.”

.

.

~oOo~

.

.

Pantai

 

Hermione kini duduk di bangku yang berada di pantai itu. Tempat itu tak banyak berubah, masih sama seperti dulu. seketika air matanya menitik turun membasahi pipinya yang kini keriput.

 

“Aku merindukanmu, Drake…” lirih Hermione tertahan. Segera dihapusnya air mata itu sebelum cucunya melihat. Tak dapat dipungkiri, ia masih sangat mencintai putra tunggal Lucius Malfoy itu, bahkan hingga sekarang. Namun seketika lamunannya terhenti,

 

Sorry, Grandpa.. Theo tak sengaja.” Ucap Theo, sepertinya Theo berbuat ulah, segera saja Hermione menghampiri Theo. Dilihatnya seorang pria tua mungkin seumur dirinya kini tengah mengusap kepalanya yang beruban.

 

“Ada apa, Theo?”

 

“Grandma, Theo benar-benar tak sengaja menendang bola hingga mengenai kepala Grandpa ini. Tapi Theo sudah minta maaf, kok…” cicit Theo junior itu takut-takut. Namun pria tua itu hanya tersenyum dan mengelus kepala Theo.

 

“Tak masalah… Grandpa tidak apa-apa,kok.” Tepat pada saat itu juga pria tua itu menolehkan kepalanya menatap nenek dari Theo. Namun seketika dirinya tersentak, mata itu… dia tahu betul mata itu, serta lekuk wajah itu. Wajah yang tak mungkin bisa ia lupakan, walaupun wajah itu kini telah ditutupi kerutan-kerutan keriput dan rambut semak yang kini terlihat memutih.

 

“Hermione..”

 

“Draco..”

 

.

.

~oOo~

.

.

 

Kini Draco dan Hermione duduk berdampingan di bangku di pantai tersebut, benar-benar mengingatkan mereka pada masa 40 tahun yang lalu. Saat awal mereka bertemu. Bedanya, kali ini ada Theo yang menjadi objek pandang mereka. Tak ada satupun dari mereka yang bicara, mungkin mereka masih canggung karena ini pertama kalinya mereka bertemu sejak 40 tahun yang lalu. Seperti dulu, kali ini Draco kembali mencoba mengawali percakapan,

 

“Bagaimana kabarmu, Mione?” terasa sekali kecanggungan diantara mereka.

 

“Aku.. baik, Drake… bagaimana denganmu? Kau pasti bahagia dengan Astoria, kan? Dia sangat cantik.” Ucap Hermione gugup. Perlahan senyum terukir di bibir Draco, dengan berani Draco  menggenggam tangan Hermione.

 

“Aku bercerai dengan Astoria, tepat dua bulan setelah pernikahan kami. Aku memergokinya tengah berselingkuh dengan saingan bisnisku.” Sontak Hermione mendongakkan kepalanya, ia tak percaya dengan apa yang didengarnya kini. Draco menatap Hermione lembut, sorot mata itu. Sorot mata yang tak mungkin bisa dilupakan oleh Hermione. Seketika Hermione tersadar dari tatapan maut Draco,

 

“Lalu? Pasti kau sudah menikah lagi,kan? Pasti banyak wanita yang sudah menunggumu diluar sana.” Tanya Hermione lagi. Lagi-lagi Draco tersenyum, namun kali ini senyumnya terlihat pedih. Draco menggeleng,

 

“Tidak… sejak itu aku tak berniat untuk menikah lagi. Tak ada seorang wanita pun yang bisa menggantikanmu, Mione. Akhirnya aku memutuskan untuk hidup sendiri, hingga saat ini.” Lagi-lagi Hermione tersentak, ia tak menyangka Draco begitu setia padanya. Bahkan hingga hampir di ujung usianya, Ia masih hidup menyendiri. Suasana kembali hening.

 

“Kau sendiri bagaimana? Kelihatannya kau begitu bahagia. Theo itu cucumu, kan? Namanya sama dengan nama suamimu, Theodore. Aku benar, kan?” Tanya Draco sambil memandang Theo yang sedang bermain. Hermione memandang Draco tak percaya. Bagaimana bisa pria itu tahu ia menikah dengan Theodore Nott? Pernikahannya dulu memang tak di langsungkan di Inggris, melainkan di Perancis. Saat itu ia benar-benar ingin mengubur masa lalunya bersama Draco, seperti bisa membaca pikiran Hermione, Draco tersenyum jenaka,

 

“Kau pasti bingung darimana aku tahu tentang suamimu? Hey, kau lupa siapa Draco Malfoy? Haha, yah, ku akui pada saat-saat awal kita berpisah dulu aku sering mencari-cari informasi tentangmu. Sempat aku berniat ingin membunuh Theodore Nott itu. Tapi, well ku pikir dia pria yang baik dan tak sebrengsek aku. Jadi kuputuskan untuk berhenti mengintaimu. Ku pikir kau pasti akan bahagia dengannya. Aku benarkan, nyonya Nott?” jelas Draco panjang lebar berusaha menutupi luka di hatinya yang kembali menganga. Hermione tersenyum hanya miris seraya menatap Draco lama,

 

“Theo meninggal saat aku tengah hamil anak pertama kami, ia tewas dalam kecelakaan pesawat. Sejak saat itu aku memilih menjadi single parent dan aku memilih untuk menetap di Paris. Hingga hari ini, aku kembali kesini.” Draco kini menatap Hermione sayu, tak disangkanya wanita ini begitu tegar. Ah, andai saja waktu bisa diputar ingin rasanya mereka kembali ke masa lalu dan mengulang semuanya dari awal. Andai waktu bisa di putar, ingin rasanya Draco kembali ke masa itu dan kembali mendampingi Hermione. Namun takdir memang sepertinya sengaja mempermainkan mereka. Takdir mempertemukan mereka disaat semuanya sudah terlambat untuk diubah.

 

Semua yang terjadi

Tak mungkin kembali

Jalan kita memang berbeda

Namun hati ini tak ingin kembali

 

 

“Lalu, apa yang membawamu kembali kesini?” Tanya Draco penasaran. Hermione kini menatapnya dalam, sarat akan kerinduan.

“Kau tahu? Sampai saat ini aku begitu merindukan pantai ini.” Lirih Hermione. Draco kembali memandang Hermione.

“Kau kembali hanya karena merindukan pantai ini? Apa kau tak merindukanku? Kau tahu, hampir setiap hari aku ke pantai ini hanya untuk menunggumu, berharap kau kembali.” Lirih Draco, tak ayal, air mata Hermione meleleh membasahi pipinya.

“Aku juga merindukanmu, Draco …” lirih Hermione. Dipeluknya tubuh renta Draco, yang kini sudah tak setegap dulu lagi. Draco pun tak kuasa untuk tidak menitikan air matanya dipeluknya tubuh Hermione tak kalah erat.

 

Kuyakin kita akan bahagia

Tanpa harus selalu bersama

Tak perlu disesali

Tak usah ditangisi

 

 

Kini Hermione tengah menyandarkan kepalanya dipundak Draco, ia begitu merindukan saat-saat seperti ini. Ia memejamkan matanya menikmati belaian hangat Draco yang kini mengelus lembut rambut putihnya. Draco pun begitu, sesekali dikecupnya pucuk kepala Hermione seperti dulu.

 

“Kau tahu, Mione… aku kini bahagia…” lirih Draco sambil tersenyum. Namun tak dirasakannya respon dari Hermione. Di liriknya wajah Hermione yang tengah memejamkan matanya,  dada Draco berdesir nyeri. Ia tahu sudah tiba saatnya. Lagi-lagi waktu memisahkan mereka dengan seenaknya,

 

“Lagi-lagi kau pergi tanpa pamit, Mione, kita bahkan belum sejam bertemu…” lirih Draco sambil menangis dan mengusap wajah Hermione. Di peluknya tubuh yang mulai mendingin di pelukannya itu. Kemudian direbahkannya kepalanya diatas kepala Hermione, dan menutup matanya rapat.

.

.

.

.

~oOo~

.

.

 

.

.

Rintik air hujan mengiringi pemakaman Draco dan Hermione, mereka dimakamkan secara berdampingan. Ya, mereka meninggal saat di pantai waktu itu. Siapa sangka pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun itu ternyata juga merupakan pertemuan terakhir mereka. Sekalipun takdir mempermainkan mereka, see, bahkan hingga akhir hayat merekapun mereka masih saling mencintai.  Mungkin ini memang jalan terbaik bagi mereka.

 

Kuyakin ini jalan terbaik

Walau kita tak lagi berdua

Tak perlu kau sesali

Tak usah ditangisi

 

FIN

 

 

A/N :  Hadoh, OOC nya super duper parah, hehe. O, iya, fict ini sebenernya fict lamaku di fandom screenplay yang aku rombak ulang. Maaf kalau sekiranya fict ini mnegecewakan. Harap maklum, saya masih baru di fandom ini, hehe… masih harus banyak belajar. Butuh saran dan kritik tapi tidak terima flame/bash, hehe, monggo di review…

 

Sign,

DraconiSparkyu a.k.a Cho Han Kyo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s