FF KYUMIN | FUDUS ORORPUS | REMAKE | YAOI | PART 2


A KYUMIN FANFICTION

.

Presented by Sevy Lelibriani © 2013

.

FUDUS ORORPUS

.

Disclaimer : the story belongs to me, idea of story is from Julia Stevanny, all casts belong to god, their parents, and them selves. This is REMAKE fict. So, if you don’t like this fict, please out without bashing.

.

Warning : Boys Love | EYD tidak sesuai | typo (s) | aneh | Full of Sungmin’s PoV

.

Summary : Perempuan tua aneh itu datang pada suatu hari dan mengacaukan hidup Sungmin. “FUDUS ORORPUS!” katanya dengan suara bergetar mengerikan. Matanya membelalak dan tangannya bergerak-gerak liar. “Naik, Turun, Lurus, Terputus… oh, nasibmu sangat buruk, Nak! Kau dilahirkan tanpa garis jodoh! Kau di takdirkan untuk menjadi perjaka tua!”

.

.

~oOoOo~

.

.

Eunhyuk masih di meja penerima tamu, sibuk membagikan souvenir pada para tamu. Aku menunggu hingga agak sepi baru mendekatinya.

 

“Kau darimana saja, Ming?” Tanya Eunhyuk, “Kok, lama banget?”

 

“Barusan ngobrol sama namjachingunya Kibum.” Jawabku Eunhyuk mengernyit, “Memangnya Kibum sudah punya pacar?”

 

Aku mengangguk, menatap Eunhyuk misterius, “Dan kau tidak namjachingunya seperti apa?” eunhyuk menggeleng, “Seperti apa?” tanyanya penasaran.

 

“Mirip Marcus Cho, magnae Boyband Super Junior…” sahutku, “Keren, tampan, cool banget. Aku sampai gemetar melihatnya. Dibandingin dia, Donghae tak ada apa-apanya!” Eunhyuk terpana, kemudian aku baru tersadar dengan apa yang aku katakana.

 

“Eh,Mian, Hyuk. Aku keceplosan, aku tak bermaksud menjelek-jelekan Donghae, kok. Serius!” Eunhyuk tersenyum, “Gwaenchana, Donghae memang tak terlalu tampan, kok.”

 

“Mian…”

 

“Sudahlah, tak usah dipikirkan. Aku jadi penasaran dengan orangnya…”

 

“Tapi kau jangan bicara dengannya, ya?” ujarku memperingatkannya, “Memangnya kenapa?” Tanya Eunhyuk heran.

 

“Soalnya yang di omongin pelajaran terus. Makanya aku langsung pergi jauh-jauh.” Eunhyuk tertawa, “Cocok dong dengan Kibum.”

 

“Nah, yang itu orangnya…” Tunjukku ke dekat meja prasmanan, “ Namja yang pakai baju merah tua, yang lagi jalan disebelah Kibum… lihat, gak?” Eunhyuk terpana.

 

“Omona! Kalau namja itu naksir denganku, tukar tambah dengan Dongfhae pun aku rela.” Ujar Eunhyuk terpana, sementara aku hanya memutar bola mataku malas.

.

.

~oOoOo~

.

.

 

“Untuk Lee Sungmin”

 

Aku yang sedang bersantai di sofa langsung terlonjak. Tak salah tuh? Untuk Lee Sungmin? Untukku?  Pembantuku, Seohyun Ahjumma, tergopoh-gopoh masuk. Tangannya memeluk sebuket mawar merah. Aku membelalak, “Buat Tuan Sungmin.”

 

“Buatku? Dari siapa, Ahjumma?” tanyaku heran, “Ahjumma tak tahu, Tuan. Tak ada nama pengirimnya.” Jawab Seohyun Ahjumma lalu beranjak ke dapur.

 

Aku memandang bunga itu linglung. Ada selembar karu ucapan kecil di ikatkan di tangkai bunga itu. Tanganku gemetar ketika meraihnya. Cepat-cepat kubuka kartu itu. Tulisan yang tertera di dalamnya jelek sekali. Ku baca satu per satu deretan huruf yang di tulis meggunakan tinta hitam itu,

 

 

Sungmin my love,

 

From second to second

From minute to minute

I look in your face

And realize

You’re the only one for me

You’re the only one I want in my life

 

K .C.

 

KC? Siapa KC? Apa aku punya teman berinisial KC? Belum sempat aku mengingat ingat, pintu tiba-tiba terbuka. Kibum dan Kui Xian berjalan masuk,

 

“Wah… mawar…” Kibum masuk sambil senyam senyum menggoda, “Dari siapa?” Kui Xian menguntit di belakangnya dan memandangku dengan tatapan yang membuatku grogi.

Oh my god! Aku harus mengingatkan diriku sendiri bahwa dia namjachingu namdongsaengku.

 

“Tidak tahu. Tak ada namanya, Cuma inisial.” Jawabku malas.

 

“Dari secret admirer kali,” tebak Kibum sambil terus senyam senyum. Sementara itu Kui Xian duduk di sofa.

 

“Nah, aku tinggal dulu, ya…” ujar Kibum sambil mengerling kearah Kui Xian. Kemudian dia menoleh kearahku, “Tolong temani Kui Xian, ya, Hyung. Aku mau ke perpustakaan kota.” Aku tercengang. Apa-apaan ini? Sejak kapan aku jadi tempat penitipan namja? Kenapa Kui Xian tak sekalian diajak saja ke perpustakaan? Tapi baru aku mau protes, Kibum keburu menghilang dari pandanganku.

 

Sial! Umpatku dalam hati, “Mian, ne… Kibum memang masih kekanak-kanakan. Masa namjachingunya ditinggalin sendirian, dianya malah pergi?”

 

“Gwaenchana. Aku gak keberatan, kok.” Sahut Kui Xian. Aku membelalak. Dasar pasangan aneh!

 

“Eh, kau keberatan, ya?” Tanya Kui Xian kelihatan tak enak, “Kalau kau sibuk, gwaenchana… aku bisa nunggu sendiri, kok…”

 

“A..ani… aku lagi tak sibuk, kok…” ujarku tak enak.

 

“Jinjja?”

 

“Ne…” aku terdiam. Siap-siap menerima pertanyaan tentang pelajaran lagi. Dugaanku tepat, “Waktu kamu kelas satu, pernah diajarin rumus singkat ngitung volume ruang bersisi-n, gak?” tuh, kan! Itukan pertanyaan yang kemarin aku tinggal pergi.

 

“Eh, mi..mian. bukan bermaksud kasar, tapi bisa gak kita jangan ngomongin pelajaran?” Kui Xian terkesiap. Dia kelihatan kaget. Aku harap-harap cemas menatapnya. Apa jangan-jangan dia marah?

 

Tapi ternyata Kui Xian gak marah. Tawanya malah meledak, “Memangnya kenapa? Kok kayaknya kamu antipati banget sama pelajaran?”

 

“Di sekolahkan sudah belajar delapan jam. Masa di rumah harus ngomongin itu lagi.” Ujarku tanpa sadar mem-poutkan bibirku.

 

“Iya, deh… aku gak ngomongin pelajaran lagi.” Kami terdiam sejenak. Saling menatap dengan canggung. Jantungku mulai berdebar lagi. Sialan kau Kibum! Kenapa harus menitipkan namja setampan ini padaku? Cobaan yang berat.

 

“Kau tak suka matematika, ya?” Tanya Kui Xian

 

“Benci benget. Susah, bikin pusing.” Ujarku.

 

“Itu pasti cara belajarmu yang salah. Kalau cara belajarmu benar, sebenarnya matematika itu gampang, kok…” aku mentapanya ragu. “Mau bukti? Ambil buku matematikamu! Sama pensil, ya!” tantangnya.

 

Aku tecengang. Tapi karena tak enak, akhirnya aku turuti juga. Setelah aku kembali, kuletakan semua barang yang dimintanya di atas meja.

 

“Kita mau ngapain, sih?” tanyaku.

 

“Aku mau mengajarimu cara gampang mengerjakan matematika.” Jawabnya riang. Aku langsung lemas. Sial! Aku terjebak! Acara penitipan ini berubah jadi acara les matematika. Dengan lesu aku menatap Kui Xian yang sedang semangat menreangkan rumus-rumus padaku. Kemudian aku punya de cemerlang. Ah, ya, kan Jang Seongsaenim kemarin memberika pr? Kui Xian bisa kumanfaatkan, nih!

 

“Eh, aku ada PR, nih. Susah banget. Aku sama sekali tak mengerti. Bantuin, ya?” tanpa pikir panjang, Kui Xian langsung menyanggupi. Beberapa detik kemudian dia sudah tenggelam dalam soal-soal matematika. Mulutnya sekali-sekali berceloteh menerangkan hal-hal yang tak kumengerti sementara aku hanya menyeringai puas. Haha.

 

Sewaktu Kibum kembali dua jam kemudian, bukan Cuma PR matematikaku yang selesai. PR fisika dan kimia juga sudah tak bersisa lagi.

.

.

~oOoOo~

.

.

 

“Eh, tumben PR mu sudah selesai semua!” seru Eunhyuk heran. Aku tertawa, “Di kerjain sama Kui Xian.”

 

“Hah?Kui Xian pacar Kibum?”

Aku mengangguk mantap, “Tak Cuma matematika, fisika dan kimia juga dikerjain semua olehnya.” Pamerku. Eunhyuk hanya menatapku iri.

 

Kemudian aku memasukan tasku ke laci. Aku terheran-heran. Tasku tak mau masuk, seperti ada yang mengganjal. Aku menarik tasku keluar lagi, kemudian melongok ke dalam laci. Detik berikutnya kau terpana. Ada sebuket mawar di dalam laciku. Aku menariknya keluar.

 

“Bagus sekali. Dari siapa?”Tanya Eunhyk heboh.

 

“Kemarin juga dapat,” sahutku

 

“Kemarin?” aku mengangguk. “Aku baru menceritakannya padamu, kemarin aku dapat buket bunga yang sama. Dikirim ke rumah. Tak ada nama pengirim, Cuma ada inisialnya…” aku mengeluarkan kartu yang kudapat kemarin dan menunjukannya ke Eunhyuk.

 

“Wah.. romantis sekali… KC.?” Eunhyuk bergumam. Matanya menyalang ke seluruh kelas, “Kangin? Kwangmin? Key?  Kiseop? Kevin?” Eunhyuk menyebutkan satu per satu nama teman sekelas kami yang berwalan huruf K. “Tapi sepertinya tak ada yang nama belakangnya berakhiran C, deh…”

 

“Lalu siapa?”

 

“Entahlah.”

.

.

~oOoOo~

.

.

Siangnya aku dapat bunga lagi. Aku bersama Eunhyuk dan Donghae kelaur dari halaman sekolah ketika seorang anak kecil botak tiba-tiba mendekat.

 

“Noona… Noona…” dia berlari mendekat. Aku mendelik. Tak salah tuh? Noona? Hey, aku NAMJA!

 

“Heh, siapa kau? Enak banget manggil ‘Noona’, hey, aku NAMJA!” umpatku sewot. Donghae ngakak. Tiba-tiba anak kecil itu mengeluarkan sebuket mawar dari punggungnya. Aku tercekat. Mawar lagi?

 

“Wah, Min kau dapat bunga lagi.” Teriak Eunhyuk kagum. Sontak para siswa yang sedang lewat memerhatikan kami dengan tatapan yang beraneka ragam. “Ssssttt… jangan keras-keras. Kau mau membuat satu sekolah tahu?”

 

“Mawar dari siapa?” Tanya Donghae.

 

“Tak tahu… dari Ahjussi tampan.”

 

Ahjussi tampan? Kedengarannya negative banget, sih. Siswa yang menoleh padaku makin banyak, sekaran semuanya pada cengar cengir. Aduh, bisa-bisa mereka salah sangka.

 

“Memangnya kau ada hubungan apa dengan Ahjussi-Ahjussi, Min?” nah, benarkan? Donghae-lah orang pertama yang salah sangka.

 

Aku mendelik. Sementara Eunhyuk malah cekikikan.

.

.

~oOoOo~

.

.

Sungmin my love,

 

As all the stars above

Shining twinkling in the dark sky

Here I come to you

To bring you true love

To shine your heart, your world, and your life

With the light of my love, forever

 

KC

 

Donghae dan Eunhyuk ngotot nganterin aku sampai rumah gara-gara ingin baca kartu itu. Dasar pasangan norak.

 

“Romantis banget, ya… sekali-sekali kamu kayak gini, dong, Hae…”

 

“Iya… iya… besok aku petikin bunga di kebun sekolah terus aku cantelin puisi.” Jawab Donghae malas. Sementara Eunhyuk memanyunkan bibirnya kesal.

 

“Aku tahu satu-satunya cara buat nemuin si pengirim misterius.” Kata Donghae tiba-tiba.

 

“Apa?” Tanyaku bersemangat.

 

“Beli anjing pelacak. Atau pinjam anjing pelacak polisi, trus suruh ngendus kartu ini.” Jawab Donghae sambil tersenyum lebar. Itu usul paling bodoh yang pernah aku dengar. Heran, kenapa dulu aku pernah tergila-gila pada namja yang setelah aku kenal lebih jauh tak ada menarik menariknya ini!

.

.

~oOoOo~

.

.

Siang yang panas. Kibum sedang membaca buku di sofa. Aku sedang menonton TV. Saat itu Kui Xian datang.

 

“Nah, aku tinggal pergi dulu, ya, Hyung.” Kata Kibum, langsung bangkit berdiri. Sementara mataku masih menatap layar TV. Filmnya sedang seru. Hingga filmnya selesai, aku merasa ada yang berbeda. Mataku membelalak. Ternyata sejak tadi Kui Xian duduk disebelahku.

 

“Loh, kok masih disini? Bukannya kamu tadi pergi dengan Kibum?”

 

“Eh, ani… kibum Cuma ke perpusatakaan sebentar, kok. Aku malas, mending nunggu disini aja.”

 

Hah? Pergi dengan pacar sendiri malas? Aku merasa agak aneh.

 

“Ada PR yang mau dibantuin, gak?” tanyanya. Aku terkesiap.

 

“Kamu mau mengerjakannya lagi?”

 

“Bawa sini aja.” Tak mungkin, kan aku melewatkan kesempatan emas ini? Maka aku langsung melesat ke kamar untuk mengambil buku PR.

 

“Minggu ini ada PR matematika, kimia, sama biologi.” Sahutku.

 

“Kok biologi? Gak, ah… aku Cuma bisa eksakta…”

 

“Jebaaalll….” Bujukku tanpa sadar mengeluarkan aegyo-ku, “Aku lebih tak bisa lagi…”

 

Kui Xian menatapku. Saat itu kurasa ada yang aneh pada cara Kui Xian menatapku, dia memandangku seperti… hmmm… terpesona? Ah, apa yang kupikirkan? Ingat Sungmin. Rule number one : Jangan GR. Rule number two : ingat bahwa dia namjachingu adikmu.

 

“Oke, deh. Buatmu apa, sih yang nggak?” jawab Kui Xian tanpa diduga.

 

Hah? Gawat! Dia mulai lagi. Jantungku benar-benar berdebar kencang.

.

.

~oOoOo~

.

.

Hampir setiap hari Kui Xian datang ke rumahku dengan alas an yang sama : menunggu Kibum pulang dari perpustakaan. Karena Cuma aku yang ada di rumah (Ryeowook belum pulang kerja, Heechul ngelayap entah kemana, dan Taemin masih terlalu kecil untuk disuruh menemani tamu), jadi aku yang kena getahnya, dimintai tolong menemani Kui Xian. Aku sebenarnya tak keberatan. Tapi lama-lama juga aku merasa tak enak. Kalau begini terus Kui Xian jadi lebih sering ketemu aku daripada Kibum, kan? Menurutku itu tak bagus. Kibum,kan pacarnya!

 

Anehnya meski ditinggal tinggal terus, Kui Xian sama sekali tak protes. Malah kelihatan senang pas aku kasih tumpukan PR. Pasangan yang aneh.

 

Suatu hari aku tak bisa menahan  mulutku untuk bertanya, “Kui Xian, kok kau tak pernah ikut Kibum ke perpus, sih?”

 

Kui Xian menggeleng sambil sibuk menulis rumus di kertas. Ya, dia sedang mengerjakan PR-ku. “Gwaenchana, aku hanya sedang malas baca buku.”

 

“Tapi kau, kan hobi matematika?” pancingku. “Di sana banyak buku bagus tentang matematika, lho.”

 

“Ah, semua buku matematika yang ada disana aku sudah punya semua. Lagian buku disana, tuh debunya tebal-tebal. Alergiku bisa kumat.”

 

“Tapi, kan disana kamu bisa menemani Kibum?” ujarku tak putus asa.

 

“Kibum gak mau di temani, kok.dia lebih senang sendiri kalau lagi baca buku. Lebih tenang katanya.”

 

“Ya… menemani,kan tak harus disampingnya persis. Kau kan bisa ke bagian-bagian lain. Kalau kau biarin dia sendiri, bisa-bisa di ambil namja atau yeoja lain, lho!” ujarku berusaha menakutinya.

 

“Itu jelas tak mungkin.” Sahut Kui Xian santai, “Aku kenal Kibum. Aku tahu dia tipe setia…” aku mati kutu, tak tahu harus bicara apa lagi.

 

“Memangnya kenapa? Kamu bosan ya menemaniku terus?” Tanya Kui Xian.

 

Aku terkesiap.

“Eh, ani… jangan mikir buruk gitu, dong…” Kui Xian tertawa. “Aku hanya bercanda.”

.

.

~oOoOo~

.

.

Setelah tidak berhasil bicara dengan Kui Xian, aku memutuskan untuk bicara dengan Kibum. Aku harus menasehati anak itu. Ini sudah keterlaluan.

 

“Kibummie, aku mau bicara,” kataku sore itu di kamarnya. “Ada apa?” Tanya Kibum sambil menatapku. Aku menghela napas sebentar.

 

“Ini tentang sikapmu dengan Kui Xian.” Dahi Kibum mengernyit, ‘Memangnya sikapku kenapa, Hyung?”

 

“Menurutku kamu sudah menelantarkan Kui Xian. Selama ini berapa kali kamu ninggalin dia? Sering, kan? Hanpir tiap hari. Apa kau tak kasihan padanya? Dia datang jauh-jauh, eh malah ditinggal di rumah…”

 

“Tapi dia gak apa-apa, kok.” Kata Kibum polos.

 

“Iya, sekarang gak apa-apa. Tapi lama-lama pasti dia akan kesal. Pasti dia juga akan berpikiran macam-macam tentangmu. Ini gak bagus buat hubungan kalian.” Aku heran sekali Kibum malah tertawa.

 

“Ah, Hyung tenang aja, deh. Kui Xian bukan tipe namja seperti itu. Dia dewasa, kok. Dia juga bisa ngerti kalau aku lagi sibuk.”

Sekali lagi aku mati kutu.

.

.

~oOoOo~

.

.

Siang yang sial itu,Kui Xian baru saja datang dan Kibum baru saja berangkat ke perpustakaan. Aku berlari masuk ke kamar, mengambil buku PR.

 

Celakanya sewaktu mendekati Kui Xian, tiba-tiba aku terpeleset. Reflex Kui Xian menangkapku.

 

“Gwaenchanayo?” tanyanya.

 

“Gwae.. Gwaenchana,” kataku gugup. Saat itu aku sadar posisi kami masih berpelukan. Cepat-cepat aku melepaskan diri. Wajahku memerah. Begitu juga Kui Xian. Sesaat dia kleihatan gugup, lalu cepat-cepat duduk lagi dengan kikuk.

 

“Yang mana PR-nya?” ujarnya mengalihkan perhatian. Tapi saat mata kami bertatapan, wajahnya memerah lagi.

 

“Eh, i..ini…” jawabku kikuk.

.

.

~oOoOo~

.

.

Malam ini aku tak bisa tidur. Entah kenapa wajah Kui Xian selalu muncul di benakku. Hatiku penuh rasa bersalah. Seharusnya aku bisa menjaga jarak. Seharusnya aku tak membiarkan diri terlalu dekat dengannya. Seharusnya aku bisa mengendalikan perasaanku.

.

.

~oOoOo~

.

.

TBC

 

 

15 thoughts on “FF KYUMIN | FUDUS ORORPUS | REMAKE | YAOI | PART 2”

  1. Wah… cerita ini memikat sekali… si secret admirer itu si Kui Xian Cho aka Kyuhyun kan kan kan kan….^^ mau lanjut baca. Minta pw nya dunk…#ngasih tangan…

  2. haloo sya reader baru^^
    Kyu pnya rncana sma kibum ya?? hahaa karakternya min bner2 namja ngeselin tpi aku stuju sma min klo ktmu org yg ngmongin plajaran itu lbih ngselin kekkeke~
    Boleh minta pw??? jeball (ㅠ____ㅠ)

  3. waaah ming oppa udah punya tanda noh ke kyu oppa xD
    jangan” KC itu kyu oppa ya ?
    ato jangan” lge, kyu oppa cuma sahabatan ama kibum oppa, terus minta bantuan ke kibum oppa biar dia deket ama ming oppa xD

  4. Jangan-jangan yang ngirim sungmin bunga kyuhyun,,,,
    Lagian ki bum aneh punya pacar ditinggal di rumah terus,,,,
    Ntar naksir sungmin loch…

  5. Kkkkkk nah kan cem abg labil minnyaaa kkkkk
    Kayaknya kui xian sama kyuhyun itu sama ya, kibum ama kuixian ga pacaran ya. Abis aneh gt -.-

  6. Ehh,sapa yg kasih bunga ke min masa kuizian,tp insial namanya mirip KC
    Jangan” yg sebernarnya ama min tuh kyuhyun adikknya kuizian,katanya kan kuizian punya adik,hahaha*plak sotoy*
    Aduh penasaran nihh
    Udah intip chap 3 tp di pw,minta pwnya y chinguu,nanti q emaill

  7. Itu KC mah daddy gueeeee, Kuyun Cho huaha/? *garing kreskres-,-
    Kaya yg dibilangin diatas, gue rasa jugak itu si kui xian itu daddy kyu-‘ Nyamar gitukan, gegara pengen deket ama ming, lah yg kui xian asli nya barengan di perpus mulu itu udah janjian ._. Napa gue jadi nebak nebak sotoy dah_-
    Okay dari pada belok belok ceritanya kamu saya buat, mending langsung cuss ke next chap😀
    Acc my bbm okay :3 Mau minta pw dari situ aja:3

  8. Waaah.. Nampaknya Ming ga jadi perjaka tua ya..
    Wkwkwkkw..
    Kasian Kyu tiap hri kerjaannya bikir peer Ming..

    KyuBum ga beneran pacaran kan ya? Klo beneran masa Kyu ditinggal trus..

    Ga sabar baca next chap..
    Minta pw ya.. Aku udh add bbm & kirim email..
    Thanks

  9. aduuhh emang aneh bgt kui xian sama kibum, itu mah kyknya sengaja bgt deh. kuixian sama kyu orang yg sama atau beda ya? kan soalnya kuixian bilang dia pnya namdongsaeng hehe #plak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s